MasukPagi ini, udara di koridor-koridor istana seolah dipenuhi oleh bisikan yang tak putus-putus.
Dekrit resmi yang telah dibubuhi stempel giok Harem—sebuah segel yang menunjukkan otoritas mutlak sang Permaisuri atas urusan wanita di belakang takhta—telah disebarkan.Nama-nama para Selir terpilih beserta gelar baru mereka kini telah menjadi konsumsi publik, menandai babak baru dalam politik domestik kekaisaran.Di dalam paviliun pribadinya yang megah, Diana Sinclair duRatu Rosalie tidak memintanya duduk. Ia hanya menyesap tehnya perlahan, membiarkan keheningan yang menyiksa menyelimuti ruangan. "Kau datang, Elizabeth. Aku terkejut kau masih memiliki keberanian untuk menunjukkan wajahmu setelah apa yang menimpa Lily semalam."Elizabeth menegakkan punggungnya, menatap Ratu tanpa gentar. "Saya datang atas perintah baginda Ratu sekaligus untuk memberikan laporan lanjutan, Yang Mulia. Mengenai 'insiden' semalam—""Insiden?" William memotong dengan nada suara yang meninggi, penuh dengan racun. "Kau menyebut percobaan pembunuhan dengan racun sebagai 'insiden'?"Elizabeth mengerutkan kening. "Racun?"William berdiri, tangannya mencengkeram pinggiran meja hingga buku jarinya memutih. "Jangan berpura-pura bodoh! Dokter istana menemukan sisa-sisa racun pelumpuh saraf pada pecahan gelas yang melukai Lily semalam. Racun yang sangat langka, Elizabeth. Jenis racun yang hanya bisa didapatkan oleh bangsawan tingkat tinggi dengan akses ke pasar gelap atau gudang ra
Di dalam kamar pribadinya yang luas namun terasa sesak oleh kenangan pahit semalam, Denada berdiri diam di depan sebuah tempat lilin kuno berbahan perunggu. Tangannya yang masih terasa sedikit gemetar memegang pemantik, menyalakan sumbu lilin satu per satu. Cahaya jingga yang temaram mulai menari-nari di dinding, membiaskan siluet tubuhnya yang ramping namun tampak rapuh, seolah-olah beban yang ia pikul telah mengikis perlahan sisa-sisa kekuatannya.Setiap percikan api yang menyentuh sumbu lilin seolah-olah membakar secuil ingatan tentang Alon yang baru saja memperlakukannya sebagai wadah pelampiasan. Denada menatap nyala api itu dengan mata yang hampa, seakan jiwanya telah terbang menjauh, meninggalkan raga yang hanya sekadar menjalankan fungsinya sebagai Permaisuri pajangan.Keheningan itu pecah ketika pintu kamarnya dibuka dengan terburu-buru. Cucu masuk dengan wajah yang pucat pasi dan mata yang membelalak gelisah. Pelayan setia itu segera mendekat, napasnya sedikit tersengal-
Keheningan yang menyergap aula kediaman Permaisuri saat itu terasa begitu tebal hingga seolah-olah suara napas pun enggan terdengar. Kata "Sayang" yang meluncur dari bibir Arthur masih menggantung di udara, menciptakan efek kejut yang luar biasa bagi lima puluh selir baru yang masih bersujud di lantai. Mereka seperti kumpulan patung porselen yang membeku di tengah jalan, ada yang matanya membelalak menatap lantai, ada yang tangannya gemetar, dan ada pula Vania Mahen yang wajahnya sudah sepucat kertas—terkejut sekaligus merasa baru saja ditampar oleh kenyataan.Diana masih mematung di singgasananya. Ia menatap tangan Arthur yang terulur, lalu beralih menatap wajah suaminya. Arthur berdiri dengan tegak, wajahnya sedatar papan kayu, matanya menatap Diana dengan intensitas yang berlebihan, namun bibirnya tersenyum kaku—sangat kaku hingga Diana curiga otot wajah pria itu mungkin sedang mengalami kram hebat."Sayang?" ulang Diana dengan nada yang naik satu oktav, matanya menyipit penuh s
Pagi ini, udara di koridor-koridor istana seolah dipenuhi oleh bisikan yang tak putus-putus. Dekrit resmi yang telah dibubuhi stempel giok Harem—sebuah segel yang menunjukkan otoritas mutlak sang Permaisuri atas urusan wanita di belakang takhta—telah disebarkan. Nama-nama para Selir terpilih beserta gelar baru mereka kini telah menjadi konsumsi publik, menandai babak baru dalam politik domestik kekaisaran.Di dalam paviliun pribadinya yang megah, Diana Sinclair duduk dengan anggun di atas kursi kebesaran yang terbuat dari kayu cendana berukir phoenix emas. Ia mengenakan hanfu berbahan sutra tebal berwarna biru tua yang memberikan kesan wibawa yang tak tergoyahkan. Di tangannya, sebuah cangkir porselen berisi teh krisan hangat mengeluarkan uap tipis yang menari di udara. Diana menyesap tehnya dengan sangat tenang, meskipun ia bisa merasakan tendangan kecil dari perutnya yang kian membuncit.Embun dan Bibi Erna berdir
Aroma herbal dari berbagai botol obat biasanya mendominasi ruangan ini, namun malam ini, aroma segar dari krim wajah yang baru saja diracik Diana menjadi penguasa udara.Arthur duduk diam di kursi depan meja rias Diana. Pria yang biasanya memegang pedang dengan tatapan mematikan itu kini tampak pasrah. Matanya terpejam, membiarkan cahaya lampu menyoroti pahatan wajahnya yang tegas—garis rahang yang keras, hidung mancung yang angkuh, dan benjolan kemerahan kecil di pipinya yang menjadi alasan drama kecil mereka hari ini.Diana berdiri tepat di hadapan Arthur. Jemarinya yang lentik mengambil sedikit krim dari jar porselen, lalu mengoleskannya ke pipi Arthur dengan gerakan yang sangat telaten. Sentuhannya ringan, hampir seperti belaian sayap kupu-kupu, namun penuh dengan perhatian seorang istri."Uhuk! Uhukk!"Batuk kecil itu memecah keheningan yang manis. Tubuh Diana sedikit terguncang. Seketika, mata Arthur yang semula terpejam
Uap air panas membubung tinggi di dalam ruang pemandian paviliun Permaisuri, menciptakan kabut tebal yang menyamarkan segala sudut ruangan. Aroma minyak esensial cendana yang menenangkan memenuhi udara, namun bagi Denada, atmosfer itu justru terasa menyesakkan. Di dalam bak kayu besar yang berisi air hangat bertabur kelopak bunga mawar, Denada tidak sedang bersantai.Tangannya yang gemetar mencengkeram kain pembersih berbahan kasar. Ia menggosokkan kain itu ke pundaknya, lengannya, hingga ke area dadanya dengan kekuatan yang tidak masuk akal. Ia menggosok hingga kulit putih porselennya berubah menjadi merah padam, nyaris lecet. Denada merasa seolah-olah sidik jari Alon masih tertinggal di sana, membakar kulitnya dengan noda yang tak kasat mata namun terasa sangat menjijikkan."Kotor..." bisiknya dengan suara yang pecah. "Sangat kotor."Setiap kali ia memejamkan mata, ia kembali merasakan napas Alon yang berbau arak dan mendengar gumaman nama 'Diana' yang keluar dari bibir suaminy
Hari perjamuan pangan akhirnya tiba.Sejak pagi, Istana Kekaisaran Norvenia sudah dipenuhi kesibukan. Para pelayan hilir mudik membawa nampan makanan, kain meja baru dibentangkan, lentera-lentera emas digantung rapi di sepanjang koridor menuju Aula Utama.Namun bagi Diana, hari ini bukan sekadar p
Langkah Diana terasa ringan saat ia menuruni jalan menuju gedung klinik Ruyi. Pagi itu udara masih sejuk, namun semangat yang memenuhi dadanya membuat ia hampir tak merasakan dingin angin yang bertiup.Di dalam kantong kecil yang tergantung di pinggangnya tidak ada apa-apa, tetapi angka yang tersim
Harsa melangkah dengan tergesa ke halaman belakang istananya, jubah panjangnya terseret angin sore yang mulai menggigit. Langkahnya yang semula cepat perlahan melambat ketika sosok berbalut mantel putih itu memasuki pandangannya. Diana berdiri membelakanginya, rambut hitamnya terurai rapi dengan
“Bagaimana bisa Putra Mahkota diculik?!”Suara Kaisar menggema keras di aula dalam istana kekaisaran.BRAK!Telapak tangannya menghantam meja kayu ukir hingga tinta di atasnya bergetar. Wajahnya yang biasanya penuh wibawa kini tampak tegang dan panik. Garis-garis usia di dahinya semakin dalam, me







