Share

Bab 86. Rumor

Penulis: nanadvelyns
last update Tanggal publikasi: 2026-01-22 00:06:57

Sejak hari berburu dan bakti berlalu, rumor mengenai Putra dan Putri Mahkota Kekaisaran bagaikan api yang disiram minyak—tak pernah padam, justru semakin membesar dari hari ke hari.

Di kedai teh, di lorong istana, hingga di pasar rakyat, nama Arthur dan Diana menjadi topik yang terus diulang, dibumbui imajinasi dan rasa penasaran yang berlebihan.

Semua orang masih terkejut dengan penampilan Putra Mahkota saat kembali dari perburuan.

Arthur muncul tanpa topeng, tubuhnya berlumur darah kering,
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 219. Darah di Atas Sutra Permaisuri

    Udara di dalam Paviliun Kediaman Permaisuri terasa begitu kering, membawa aroma campuran dari rempah-rempah yang direbus dan wangi kayu cendana yang biasanya menenangkan. Namun bagi Diana, aroma itu kini hanya menambah rasa sesak di dadanya. Di atas meja jati yang luas, berbagai macam botol porselen kecil berisi pil herbal dan ekstrak tanaman penguat stamina tertata rapi. Diana memasukkannya satu per satu ke dalam kotak kayu berlapis beludru dengan gerakan yang lambat namun pasti."Uhuk! Uhukk!"Diana terpaksa berhenti. Ia memegangi pinggiran meja, tubuhnya sedikit membungkuk saat batuk itu kembali menyerang. Rasa perih menjalar di tenggorokannya, seolah ada duri yang tersangkut di sana."Yang Mulia!" Embun segera mendekat, tangannya gemetar saat mencoba mengusap punggung Diana.Di sisi lain, Bibi Erna berdiri dengan wajah yang kian hari tampak kian menua karena kecemasan yang mendalam. "Apa tidak sebaiknya

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 218. Tradisi Kuil Fan Gu

    Denada membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah kekosongan yang dingin di sisi tempat tidurnya. Alon sudah tidak ada di sana. Ia bangkit dari posisi meringkuknya. Tubuhnya terasa kaku, bukan karena aktivitas fisik, melainkan karena ketegangan mental yang ia tahan sepanjang malam. Pakaian tidur sutranya yang robek masih tersampir di bahunya, sebuah pengingat bisu tentang betapa rendahnya harga dirinya di mata pria yang baru saja menjadi suaminya. Denada menatap kain yang terkoyak itu dengan pandangan hampa. Tidak ada air mata lagi pagi ini; yang tersisa hanyalah kedinginan yang membeku di dalam dadanya. Ia segera memanggil pelayan untuk menyiapkan pemandian. Di dalam bak kayu besar yang mengepulkan uap air hangat beraroma bunga krisan, Denada menggosok kulitnya dengan keras, seolah-olah ia bisa menghapus jejak sentuhan kasar dan aroma alkohol yang masih terasa menghantui indranya. Ia mem

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 217. Bayangan di Atas Ranjang Pualam

    Angin malam di wilayah Debi menderu melewati celah-celah pilar batu Istana Agung, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Di dalam ruang kerja kekaisaran yang luas, suasananya jauh dari kata megah. Botol-botol porselen berisi arak gandum yang keras berserakan di atas meja jati, beberapa di antaranya sudah terguling dan menumpahkan isinya, membasahi dokumen-dokumen militer yang seharusnya menjadi prioritas utama sang penguasa baru. Alon duduk merosot di kursi kebesarannya. Mahkota naga peraknya diletakkan sembarangan di sudut meja, sementara rambut hitamnya berantakan, menutupi sebagian wajahnya yang kini merah padam akibat pengaruh alkohol. Matanya yang biasanya tajam dan penuh perhitungan kini tampak sayu, namun berkilat dengan emosi yang gelap dan menyakitkan. "Diana..." gumam Alon, suaranya lemah dan parau. Ia mencengkeram sebuah botol alkohol di tangannya seolah-olah be

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 216. Arthur Demam

    "Aku mengganggumu?" tanya Arthur.Suaranya tidak setegas biasanya, ada nada serak yang terselip di balik baritonnya yang berat. Ia masih berdiri di ambang pintu, menatap Diana dengan mata yang tampak sedikit sayu.Diana memaksakan sebuah senyum tipis—jenis senyum yang ia gunakan untuk meyakinkan pasien bahwa semuanya akan baik-baik saja, meski ia tahu kenyataannya berbeda. Ia merapatkan tangan di dalam lengan baju hanfu-nya, memastikan sapu tangan bernoda darah itu tersembunyi jauh di balik lipatan kain."Tentu saja tidak, Yang Mulia," jawab Diana lembut. Ia melangkah mendekat, mencoba menutupi kegugupannya. "Ada apa? Bukankah seharusnya Anda masih berada di ruang strategi bersama Perdana Menteri Mahen?"Arthur tidak menjawab. Ia justru melangkah maju dengan gerakan yang sedikit lunglai. Begitu sampai di depan Diana, ia tidak mengatakan sepatah kata pun, melainkan langsung menjatuhkan kepalanya di bahu Diana.

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 215. Waktu Yang Menyempit

    Suasana di Aula Harem mendadak mencekam setelah kalimat tajam Isabella terlontar. Denada, yang duduk di singgasana Permaisuri, merasakan tenggorokannya mendadak gatal dan kering. Ia terbatuk pelan, sebuah reaksi fisik yang coba ia samarkan dengan mengangkat telapak tangannya yang terbalut lengan baju sutra lebar.Setelah berhasil menguasai diri, Denada menarik napas panjang. Ia berusaha menjaga martabatnya sebagai pemimpin tertinggi harem, meskipun guncangan di hatinya belum sepenuhnya reda. Ia kembali memaksakan sebuah senyum tenang, sebuah topeng yang telah ia pelajari sejak kecil di kediaman Raja Debi."Adikmu?" tanya Denada dengan nada ringan, seolah-olah ia hanya sedang mendiskusikan cuaca. "Siapa yang kau maksud, Selir Kehormatan? Aku tidak tahu kalau keluarga Sinclair memiliki putri lain yang kau anggap begitu berkesan."Isabella tidak langsung menjawab. Ia justru tertawa kecil—suara tawa yang terdengar hampa dan sediki

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 214. Denada

    Di dalam paviliun utama yang megah, Denada duduk dengan tenang di depan meja makan kayu hitam yang dipoles hingga mengilap. Di hadapannya tersaji mangkuk porselen putih berisi sup ayam dengan irisan ginseng dan beberapa piring kecil berisi kudapan ringan.Cucu, pelayan pribadinya yang paling setia, bergerak dengan cekatan di sampingnya. Gadis itu mengenakan seragam pelayan istana yang baru, tampak sedikit gugup namun berusaha memberikan pelayanan terbaik. Ia menuangkan teh melati hangat ke dalam cangkir giok milik Denada dengan tangan yang sedikit gemetar."Kaisar menolak datang?" tanya Denada pelan. Suaranya datar, tanpa nada kekecewaan sedikit pun, seolah ia sudah mengetahui jawaban itu sebelum pertanyaannya terucap.Gerakan tangan Cucu terhenti sejenak. Ia meletakkan teko keramik itu dengan hati-hati, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam. Raut wajahnya tampak sedih, seolah ia sendiri yang merasakan kepahitan dari penolaka

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 48. Memancing Umpan Di Istana

    “Semuanya sudah siap?”Diana berdiri di ambang pintu kediamannya, sorot matanya menyapu cepat ke arah halaman depan yang mulai ramai oleh pelayan dan prajurit pengawal. Nada suaranya tenang, namun ada kilat ketegasan yang jelas terdengar di baliknya.Bibi Erna yang baru saja kembali dari arah bela

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-21
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 47. Naga dan Phoenix di Balik Cermin

    “Rasanya aku mendengar suara Tuan Sai tadi?” ucap Diana lirih dengan suara serak khas orang yang baru terbangun. Tangannya masih setengah mengusap mata, mantel hitam bersulam naga yang terlalu besar untuk tubuhnya melorot sedikit di bahunya.Arthur menutup pintu ruang kerja tanpa menoleh. Nada sua

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-21
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 40. Harga Dari Sebuah Diam

    Aroma herbal segar memenuhi ruangan kecil di kediaman pribadi Putri Mahkota. Rak kayu dipenuhi kantung kain berisi daun kering, akar, dan bunga-bunga yang telah dikeringkan dengan teliti. Di atas meja panjang, Diana duduk bersila dengan postur tegak, kedua tangannya cekatan me

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 42. Daun Dandelion dan Permintaan Maaf yang Terlambat

    Diana melangkah masuk ke kediaman pribadinya dengan membawa bungkusan besar berisi kantung bakpao daging kukus. Kantung kain itu tampak sedikit menggembung, aromanya masih hangat dan menggoda, membuat siapa pun yang menciumnya pasti tergoda. Wanita itu melangkah dengan langkah ringan, jauh berbed

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status