Suara itu tidak keras.Namun di tengah keheningan lapangan eksekusi, suara Duke Levric terdengar jelas, menembus udara yang berat dan dipenuhi bau besi serta debu.“Aku memilih kekuasaan… dan kehilangan segalanya.”Kata-kata itu jatuh seperti batu ke dalam dada mereka yang mendengarnya.Jester berdiri kaku.Untuk sesaat, ia merasa kakinya kehilangan kekuatan. Lelaki yang pernah ia anggap sebagai guru, sebagai figur yang hampir menyerupai ayah, kini berlutut di hadapan altar penggal bukan sebagai bangsawan agung, melainkan sebagai seorang pria tua yang kalah oleh ambisinya sendiri.Di sampingnya, Seraphina menutup mulut dengan kedua tangan. Matanya melebar, lalu bergetar. Ia tidak menangis, seolah air mata itu bahkan tidak sanggup keluar menghadapi kenyataan yang terlalu kejam untuk diterima.Levric menghela napas panjang.Tarikan napas itu terdengar seperti napas terakhir dari sebuah masa lalu.Matanya masih tertuju pada Jester dan Seraphina, seakan seluruh dunia telah lenyap, dan yan
Terakhir Diperbarui : 2026-03-04 Baca selengkapnya