Ivanka tidak langsung menjawab.Ia berdiri diam di tempatnya, menatap Elyse yang kini telah berdiri tepat di hadapannya. Jarak di antara mereka hanya beberapa langkah, namun terasa begitu jauh seolah ada jurang yang terbentang, berisi masa lalu yang tidak pernah benar-benar selesai.Wajah Elyse tenang, bahkan terlalu tenang. Dan justru ketenangan itu yang membuat dada Ivanka terasa semakin sesak.“Paman sudah dimakamkan,” ucap Elyse akhirnya, suaranya lembut namun datar. “Semuanya berjalan dengan lancar.”Ivanka tidak menyahut. Ia hanya menatap, mencoba mencari sesuatu dari wajah itu kemarahan, kebencian, atau mungkin kepuasan. Namun tidak ada.Elyse melanjutkan tanpa tergesa.“Einar sekarang menjadi Count Velcross.”Kali ini, Ivanka tidak bisa menahan reaksinya.“Apa?” suaranya terangkat sedikit, matanya melebar.Elyse menarik sudut bibirnya tipis. Tangannya bergerak perlahan, mengelus perutnya dengan gerakan yang begitu alami, seolah tanpa sadar. Namun di mata Ivanka, gerakan itu te
Read more