Laverna tidak langsung menanggapi. Ia hanya tersenyum tipis, senyum yang samar namun penuh arti, sebelum kembali menatap Elyse dengan lebih saksama. Dari dekat, ia bisa melihatnya dengan jela ketenangan yang ditampilkan Elyse bukanlah ketenangan yang utuh. Ada kejenuhan yang disembunyikan rapi di balik sikapnya yang anggun.Tanpa berkata apa-apa, Laverna melangkah mendekat lalu duduk terlebih dahulu. Gerakannya tenang, tidak tergesa. Tangannya terangkat, menarik Elyse dengan lembut agar ikut duduk di sampingnya, seolah jarak di antara mereka tidak perlu dijaga dalam percakapan seperti ini.“Mungkin,” ucapnya pelan, suaranya ringan namun penuh pemahaman, “kau hanya membutuhkan seseorang untuk diajak bicara.”Elyse mengangkat alisnya sedikit. Ia menoleh, menatap Laverna sejenak sebelum akhirnya terkekeh pelan. Tawa itu terdengar ringan di telinga, namun tidak benar-benar lepas dari dalam dirinya.“Selain Viona,” jawabnya, nadanya santai namun jujur, “aku tidak punya banyak orang yang bi
Read more