Nada suara Dyall memang tidak meninggi.Namun justru karena itulah, setiap kata yang ia ucapkan terasa jauh lebih menekan dingin, terukur, dan sengaja diarahkan untuk menempatkan lawan bicaranya pada posisi yang tidak menguntungkan.Jester terdiam.Untuk pertama kalinya sejak ia melangkah masuk ke ruangan itu, ekspresinya benar-benar berubah. Bukan karena gentar, bukan pula karena kehilangan kendali, melainkan karena ia sepenuhnya menyadari di hadapan siapa ia berdiri, dan seberapa tipis batas yang sedang ia pijak.Tatapan Dyall tidak memberinya ruang. Sementara suasana di sekeliling mereka seolah menahan napas.Namun sebelum Jester sempat menyusun jawabannya sebuah suara lain memecah ketegangan itu.Lembut.Tenang.Dan datang dari arah yang tidak bisa ia abaikan.Elyse.“Tidak perlu terlalu keras, Yang Mulia,” ucapnya ringan.Nada suaranya halus, hampir santai, seolah apa yang terjadi di hadapannya hanyalah percakapan biasa. Ia tidak tampak terganggu oleh situasi tersebut. Tidak ters
Read more