Davian menghela napas berat, membiarkan udara berhembus kasar melewati celah bibirnya yang terasa kering.Lantai eksekutif tempatnya bekerja sudah gelap dan sangat sepi. Suara ketikan staf lain, dering telepon, maupun obrolan basa-basi sudah menghilang sejak dua jam yang lalu. Kini, yang tersisa hanyalah dengung pelan pendingin ruangan dan cahaya dari layar monitor yang menerangi wajah lelahnya.Namun, meski matanya menatap tajam ke arah deretan angka dan grafik di layar, otak Davian sama sekali tidak memproses data tersebut.Pikirannya melayang jauh ke belakang. Ia melihat Evelyn pergi siang tadi. Bayangan wanita itu, dengan wajah memerah menahan amarah, bahu yang gemetar terus berputar-putar di benaknya.Saat itu, di lorong yang dingin, seluruh saraf dan insting di tubuh Davian seolah menjerit. Jantungnya berteriak memaksanya untuk berlari mengejar wanita itu, menarik pergelangan tangannya, menyembunyikannya di belakang punggungnya, dan membawanya pergi. Ia ingin melindungi Evely
Read More