Hening menyelimuti ruangan presdir itu selama beberapa menit, hanya tersisa suara denting halus jam dinding dan goresan pena Victor di atas kertas. Clara tetap berdiri terpaku di seberang meja, menundukkan kepalanya dalam diam, menunggu Victor mengatakan sesuatu.Tiba-tiba, pergerakan tangan Victor berhenti. Pria itu menghela napas tajam, sebuah tanda ketidaksenangan yang sangat kentara.Dengan menggunakan ujung penanya, Victor mengetuk tiga titik berbeda di halaman empat. "Di sini, di sini, dan di sini." ucap Victor. "Angka-angka ini tidak sinkron. Clarissa seharusnya tahu lebih baik daripada menyuguhkan data mentah yang berantakan seperti ini."Clara mengangkat kepalanya, memasang ekspresi terkejut."B-berantakan?" ucap Clara kaget.Tanpa menunggu izin, Clara mengambil beberapa langkah memutari meja yang besar itu, mencoba menginvasi wilayah pribadi pria itu."Maafkan saya, Tuan Sterling. Bolehkah saya melihatnya?" tanya Clara ragu-ragu, kini berdiri tepat di samping kursi Victor.I
Read more