Angin laut sore saat itu berhembus cukup kencang, menggoyang-goyangkan rambut Aksa yang ikal kehitaman. Aksa duduk memeluk lututnya di atas bangku panjang, matanya terpaku pada sekelompok anak nelayan yang sedang asyik bermain bola di pasir tepi pantai, jarak mereka beberapa puluh meter dari rumah Eyang Wati berada.Setiap kali terdengar tawa renyah dari sana, telinga Aksa bergerak sedikit. Matanya mengikuti ke mana pun bola itu bergulir.Eyang Wati yang sedang memetik daun melati di kebun samping, ikut memperhatikan cucu buyutnya itu dengan hati yang terenyuh. Beliau mendekat dan duduk di samping Aksa, ikut memandang ke arah pantai."Lihat itu, Aksa. Itu si Jalu, yang badannya paling besar, dia selalu kalah kalau lari di pasir," ucap Eyang lembut, mencoba memancing percakapan. "Mereka anak-anak baik. Orang sini itu nggak peduli dari mana asalmu, mereka bisa jadi teman yang baik untukmu. Kalian bisa sama-sama bermain, berlari atau menendang bola."Aksa hanya terdiam, jarinya sibuk men
Última actualización : 2026-02-04 Leer más