Setelah mengerjai Arya, Freya bergerak cepat. Di depan layar komputernya, jemarinya menari lincah di atas papan ketik, menyelesaikan revisian yang sempat menjadi bahan perdebatan panas di meeting tadi. Begitu selesai, dia segera menekan tombol send ke alamat email Arya.Namun hanya berselang lima menit setelah email terkirim, sebuah pesan singkat dari Arya masuk ke ponselnya. [Masuk ke ruanganku sekarang.]Bintang yang duduk di sebelah Freya, melirik pesan itu dengan wajah ngeri. Dia menyenggol lengan Freya pelan. "Aduh, Fre... mampus kamu. Kayaknya revisimu masih kurang di mata dia. Sabar ya, jangan sampai nangis kalau dibentak lagi. Semangat!" bisik Bintang sambil memberikan gestur mengepalkan tangan.Freya hanya bisa tersenyum kecut. Di dalam hatinya, dia sendiri juga merasa gugup, tapi bukan karena masalah revisi. Dia takut Arya akan meledak karena merasa dilecehkan atau dikerjai setelah insiden ciuman kabur tadi.Gawat, apa dia bakal marah besar karena aku kerjain tadi? batin Fr
続きを読む