Happy Reading*****Lelaki yang duduk di depan kemudi itu tidak menyadari sama sekali keberadaan si bos dan neneknya. Dia malah fokus pada benda pipih pintar miliknya. "Nggak mungkin ... nggak mungkin, Cakra, kan? Dia sudah bersama Nenek saat ini. Oh, Tuhan, permainan apa ini?" keluh si bos dalam hati. Si lelaki sudah menempelkan ponsel miliknya ke telinga kiri. Bersamaan dengan Cakra yang membuka suara, Ari juga mematikan sambungannya. "Halo ... halo," kata si lelaki. Semua tulang-tulang Ari remuk, dia bahkan hampir terjatuh ke tanah andai tangan si nenek tidak menariknya masuk dan membuatnya duduk dengan paksa."Kenapa malah bengong? Mas Cakra sudah nunggu lama," omel si Nenek. "Ayo, Mas, jalan."Cakra menoleh ke belakang di mana Ari dan neneknya duduk. "Bentar, Nek. Aku mau nelpon dulu. Tadi, ada telpon masuk, tapi pas diangkat mati. Takutnya, telpon penting."Jantung Ari makin berlompatan saat Cakra mengeluarkan perkataannya tadi. Mungkin, wajahnya mulai pucat saat ini."Ya,
Last Updated : 2026-01-25 Read more