Happy Reading*****Mendengkus, Arimbi mencebik sambil menatap marah pada putra sulungnya. Sejak Cakra menceritakan rencananya, dia memang sedikit menyimpan kesal. Sekarang, si sulung makin berulah dengan menuduhnya bersekongkol dengan Vita yang semula selalu dijodoh-jodohkan dengan si sulung. "Ayolah, Ma. Jangan kekanakan, Mas, minta maaf kalau memang salah," pinta Cakra dengan memasang wajah sedih. "Mama kenapa nggak mau ngomong? Beneran marah, ya?""Pikir aja sendiri." Akhirnya Arimbi membuka suara. "Ya, sudah. Sana mandi, Mama mau temuin Vita dulu. Nggak sopan ninggalin tamu sendirian kayak gini."Langsung berdiri karena merasa terlalu lama meninggalkan tamunya sendirian. Biarlah nanti, perempuan paruh baya itu akan menyelesaikan semua kekesalan hatinya pada si sulung setelah sang tamu pulang. "Oke, siap. Nanti, Mas, jelasin semuanya sama Mama. Nggak usah ngambek lagi, ya. Cantiknya hilang, kasihan Papa." Cakra menambahkan satu kecupan di pipi Arimbi. "Gombal, sana pergi." Arim
Last Updated : 2026-01-30 Read more