Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu di balik celah gorden kamar villa, membawa rona emas yang menerangi debu-debu halus yang menari di udara. Udara Puncak yang menusuk tulang terasa kontras dengan kehangatan di balik selimut tebal itu.Meysa perlahan membuka matanya, merasakan berat yang nyaman di pinggangnya. Lengan kokoh Wildan masih melingkar di sana, seolah-olah pria itu takut Meysa akan menghilang jika ia melonggarkan pelukannya sedikit saja. Meysa menahan nafas, menatap profil wajah Wildan yang sedang tertidur. Tanpa kacamata dan tanpa kerutan di dahi saat memeriksa naskah, Wildan terlihat jauh lebih muda dan manusiawi.Meysa memberanikan diri menyentuh ujung hidung Wildan dengan jarinya. "Ganteng juga kalau lagi nggak marah-marah," bisiknya sangat pelan."Aku dengar itu, Meysa."Suara berat dan serak khas orang bangun tidur itu membuat Meysa tersentak. Ia buru-buru menarik tangannya, namun Wildan lebih cepat. Pria itu menangkap jemari Meysa, membawanya ke bibirnya, dan m
Last Updated : 2026-01-30 Read more