Hening yang mencekam menyelimuti studio PenaKata selama beberapa detik setelah komentar Pak Adam muncul di layar monitor. Fiona, yang biasanya selalu punya kata-kata tajam untuk membalas apa pun, kini tampak seperti patung lilin yang mulai meleleh di bawah sorot lampu. Ancaman mutasi menjadi staf humas lapangan benar-benar mengunci lidahnya.Fiona berdehem pelan, suaranya terdengar pecah saat ia mencoba menguasai keadaan. "Ah, benar sekali. Om Adam ... maksud saya, CEO kita, memang selalu memantau kualitas konten kita. Mari kita kembali ke jalur profesional."Ia menatap layar video call tempat wajah Lia Zanetti masih terpampang dengan senyum sinisnya. Fiona tahu, jika ia membiarkan Lia bicara satu kalimat lagi tentang masa lalu Wildan, karirnya akan tamat detik itu juga."Terima kasih banyak, Penulis Lia, atas partisipasi dan pertanyaannya yang sangat berwarna. Sayangnya, durasi kita untuk sesi tamu kejutan sudah habis. Kami harus fokus pada bedah naskah Meysa sesuai jadwal," ucap Fi
Last Updated : 2026-02-06 Read more