Meysa tertegun. Matanya membulat sempurna, menatap Alya dengan tatapan tidak percaya. Sendok kecil di dalam cangkir Americano-nya berdenting pelan saat tangannya sedikit gemetar."Mbak ... Mbak tahu kalau saya dan Wildan sudah menikah?" bisik Meysa pelan, seolah takut suara itu akan didengar oleh pengunjung kafe lain.Alya tersenyum tipis, jenis senyum yang menenangkan namun sarat akan pengalaman hidup. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kayu kafe, matanya menatap Meysa dengan teduh. "Wildan yang memberitahuku sendiri, Meys. Dia meneleponku beberapa hari setelah kalian menikah siri."Meysa bergumam pelan, hampir tidak terdengar. "Oh, jadi Wildan sudah memberitahu ..." Hatinya berdesir. Ada rasa hangat sekaligus bingung yang menyeruak. Di satu sisi, ia tersentuh karena Wildan ternyata bersikap terbuka pada masa lalunya, tapi di sisi lain, ia merasa seperti anak kecil yang baru tahu rahasia orang dewasa."Dia memberitahuku agar ke depannya tidak terjadi salah paham," lanjut Alya, suar
Read more