แชร์

Meysa agresif cium Wildan

ผู้เขียน: Risya Petrova
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-15 23:58:46

"Makasih ya, sudah mau nungguin kabar bareng-bareng. Aku nggak tahu gimana jadinya kalau aku sendirian di sini tadi."

Wildan terdiam. Ia tidak langsung menyahut. Matanya hanya tertuju pada jemari Meysa yang gemetar memainkan ujung selimut. Ada dorongan kuat untuk menggenggam tangan itu, namun Wildan hanya mengepalkan tangannya sendiri di atas lutut.

"Sama-sama," jawab Wildan singkat, suaranya datar namun berat. "Sudah jadi tanggung jawabku memastikan penulisku baik-baik saja."

Ia membuang muka, seolah menghindari tatapan Meysa yang terlalu tulus. "Lagi pula, aku juga nggak akan bisa tidur kalau tahu ada orang ketakutan di ruangan yang sama."

Meskipun kata-katanya terdengar kaku, Wildan bergerak. Ia berdiri, membetulkan letak selimut Meysa dengan gerakan yang sangat rapi dan protektif, memastikan tidak ada celah udara dingin yang masuk. Tangannya yang sehat sempat menyentuh dahi Meysa sebentar, hanya sepersekian detik untuk mengecek suhu tubuhnya, lalu segera ditarik kembali.

"Malam in
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Sentuhan Panas Editorku   Meysa agresif cium Wildan

    "Makasih ya, sudah mau nungguin kabar bareng-bareng. Aku nggak tahu gimana jadinya kalau aku sendirian di sini tadi."Wildan terdiam. Ia tidak langsung menyahut. Matanya hanya tertuju pada jemari Meysa yang gemetar memainkan ujung selimut. Ada dorongan kuat untuk menggenggam tangan itu, namun Wildan hanya mengepalkan tangannya sendiri di atas lutut."Sama-sama," jawab Wildan singkat, suaranya datar namun berat. "Sudah jadi tanggung jawabku memastikan penulisku baik-baik saja."Ia membuang muka, seolah menghindari tatapan Meysa yang terlalu tulus. "Lagi pula, aku juga nggak akan bisa tidur kalau tahu ada orang ketakutan di ruangan yang sama."Meskipun kata-katanya terdengar kaku, Wildan bergerak. Ia berdiri, membetulkan letak selimut Meysa dengan gerakan yang sangat rapi dan protektif, memastikan tidak ada celah udara dingin yang masuk. Tangannya yang sehat sempat menyentuh dahi Meysa sebentar, hanya sepersekian detik untuk mengecek suhu tubuhnya, lalu segera ditarik kembali."Malam in

  • Sentuhan Panas Editorku   Berharap nambah bobo lagi

    Wildan akhirnya menyerah pada egonya. Ia menyibakkan kain putih yang selama beberapa jam terakhir menjadi simbol batas suci antara profesionalisme dan perasaan pribadinya.Cahaya lilin yang berada di nakas sisi Meysa seketika menerangi wajah Wildan, memberikan siluet keemasan pada rahang tegasnya."Meys? Tadi kamu panggil, ada apa?" tanya Wildan, suaranya sedikit serak. Ia menggunakan panggilan Meysa tadi sebagai alasan yang aman untuk melanggar batas yang ia buat sendiri.Meysa masih berbaring miring, selimutnya ditarik hingga menutupi separuh wajah. Matanya yang bulat menatap Wildan dengan sisa-sisa kecemasan. Melihat Wildan kini berdiri tanpa penghalang di depan ranjangnya, Meysa merasa dadanya sedikit lebih lapang dan tenang."Aku ... aku cuma nggak bisa tidur, Wil," bisik Meysa pelan. Ia menurunkan sedikit selimutnya, menampakkan bibirnya yang sedikit pucat. "Aku kepikiran Pak Adam sama Kak Fio. Rasanya nggak tenang kalau belum tahu keadaan mereka yang sebenarnya. Gimana kalau lu

  • Sentuhan Panas Editorku   Memberi kehangatan saat hujan badai

    Meysa menarik selimutnya hingga menutupi dagu. Hawa dingin Puncak malam ini terasa berkali-kali lipat lebih menusuk karena ia merasa sendirian. Padahal, hanya berjarak satu meter darinya, ada Wildan. Namun, pembatas kain sprei putih itu seolah menjadi tembok raksasa yang memisahkan dunia mereka kembali.Lidah Meysa terasa kelu. Berkali-kali ia membuka mulut, ingin memanggil nama Wildan, ingin memintanya kembali duduk di sisi ranjangnya, atau sekadar memintanya bicara agar suasana tidak semencekam ini. Namun, gengsi yang masih tersisa dan ketakutan akan penolakan membuat suaranya tertahan di tenggorokan.‘Tadi dia bilang 'Aku suamimu', tapi sekarang dia malah balik ke ranjangnya sendiri dengan nada sedingin itu,’ batin Meysa pilu.Ia meratapi betapa cepatnya takdir mempermainkan perasaan manusia. Baru saja mereka tertawa kecil karena cerita hantu bodoh, baru saja ia merasakan debaran jantung yang menggila saat wajah Wildan hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya, kini semuanya beru

  • Sentuhan Panas Editorku   Ingin bobo berdua lagi

    "Andi ... asisten Pak Adam yang kirim pesan ini," gumam Wildan, suaranya terdengar hampa. Matanya masih terpaku pada layar ponsel yang menunjukkan detail lokasi rumah sakit di daerah Cisarua, tak jauh dari gerbang tol Gadog.Meysa menutup mulut dengan telapak tangan, tubuhnya gemetar. Rasa benci dan kesalnya pada Fiona menguap seketika, berganti dengan rasa nger dan juga kasihan. "Parah banget ya, Wil? Sampai masuk jurang? Ya Tuhan ... baru saja mereka pergi dari sini."Wildan segera bangkit dari posisi berbaringnya. Ia mengacak rambutnya dengan frustrasi. Instingnya menyuruhnya untuk segera meluncur ke rumah sakit, memastikan keadaan pimpinannya yang sudah dianggapnya seperti orang tua sendiri, sekaligus melihat kondisi Fiona."Aku harus ke sana, Meys. Aku harus lihat kondisi Pak Adam," ujar Wildan cepat. Ia menyambar jaketnya yang tersampir di kursi. Namun, langkahnya terhenti di depan pintu kamar. Ia terdiam, bahunya merosot lesu saat logika kembali menghantam kepalanya."Tapi ...

  • Sentuhan Panas Editorku   Kecelakaan

    “Wildan ... makasih ya buat semuanya. Makasih sudah selalu membantuku, bahkan di saat aku sendiri hampir menyerah sama kelakuanku," ucap Meysa pelan. Suaranya tulus, mengalun lembut di antara suara hujan yang menghantam atap villa.Wildan yang masih menatap langit-langit kamar merasakan dadanya berdesir. Pujian sesederhana itu dari Meysa ternyata punya efek yang lebih dahsyat dari pada bonus tahunan dari Pak Adam. Sudut bibirnya nyaris berkedut membentuk senyuman, namun ia segera mengeraskan otot wajahnya. Gengsi setinggi langitnya masih bertahan kokoh.Ia berdeham kecil, mencoba menormalkan suaranya yang mendadak terasa kering. "Tumben kamu bilang makasih ke aku tanpa disuruh? Kamu ... nggak lagi mabuk anggur lagi, kan?"Pertanyaan itu meluncur begitu saja, berniat untuk mencairkan suasana. Namun, bukannya tertawa, keduanya justru terdiam seketika. Kata 'anggur' seolah menjadi mantra yang menarik ingatan mereka kembali ke beberapa minggu lalu.Kejadian konyol saat mati lampu di apart

  • Sentuhan Panas Editorku   Tidur di satu ranjang yang sama

    "Masih takut?" tanya Wildan. Suaranya terdengar datar, nyaris tanpa emosi, namun frekuensinya yang rendah entah bagaimana berhasil menyusup ke dalam gendang telinga Meysa dengan cara yang menenangkan. Tidak ada lagi nada ejekan terang-terangan seperti sebelumnya, hanya ada sisa-sisa ketegasan yang menjadi ciri khasnya sebagai editor yang dingin.Meysa menggeleng pelan, meski tangannya masih memegang erat lilin putih yang kini menjadi satu-satunya sumber kehidupan di dapur itu. "Sedikit. Tapi lebih mendingan karena ada lilin."Wildan menyandarkan punggungnya ke pinggiran meja dapur, melipat tangan di depan dada. Cahaya lilin yang temaram mempertegas garis rahangnya yang kokoh dan memberikan efek bayangan yang misterius pada wajahnya. "Atau karena ada aku?"Meysa merengut, meski ia tidak bisa menyembunyikan rona merah yang menjalar hingga ke telinganya. "PD banget sih jadi orang. Aku cuma butuh cahayanya, bukan orangnya."Wildan mendengus pendek, sebuah senyum tipis yang sangat sulit d

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status