"Kami ...."Wildan menggantung kalimatnya. Tenggorokannya terasa kering, sementara jantungnya berdegup kencang seirama dengan detak jantung Meysa yang berdiri tepat di belakangnya. Ia menatap mata Pak Adam yang setajam silet. Haruskah ia jujur? Jika ia jujur, ia tidak hanya mempertaruhkan kariernya sendiri, tapi juga impian Meysa yang baru saja mekar.Namun, sebelum kata 'menikah' sempat lolos dari bibir Wildan, sebuah suara parau memecah ketegangan di halaman villa tersebut."Punten, Pak. Selamat pagi," suara Pak Somad muncul dari arah gerbang, diikuti oleh Pak Asep dan Bi Aam yang membawa keranjang kecil berisi bahan makanan.Semua mata tertuju pada ketiga orang lokal tersebut. Meysa menahan napas, tangannya meremas ujung kaosnya dengan kuat. ‘Tolong, jangan bilang soal Pak RT,’ batinnya berdoa dalam hati."Oh, ini Pak Somad yang mengurus villa ini kan ya?" tanya Pak Adam, suaranya sedikit melunak namun tetap berwibawa."Betul, Pak. Saya Somad," jawab Pak Somad sambil membungkuk sop
Dernière mise à jour : 2026-01-07 Read More