Sore hari, Marissa benar-benar dihubungi oleh seseorang. Ia diminta datang ke suatu tempat sendiri, jangan memberitahu siapapun. "Awas saja! Kalau sampai kau membawa orang lain, putramu tidak akan selamat!" "O-oke! Aku ... aku tidak akan memberi tahu siapapun!" balas Marissa dengan gugup. Antara bahagia, takut, panik, dan khawatir, semua perasaan itu bercampur menjadi satu. Sekarang Marissa bisa bernapas dengan lega setelah orang itu memberi tahu keadaan putranya. Ya, walau ada sedikit rasa takut mendengar ancaman itu, tapi Marissa mencoba untuk tenang. "Bagus! Aku tunggu kedatanganmu sekarang juga!" ucap Bimo sebelum menutup teleponnya. Tanpa membuang waktu lagi, Marissa segera pergi ke alamat yang sudah dikatakan oleh Bimo. Ia tidak memberi tahu siapa pun, tidak pula memberi tahu suaminya karena takut putranya benar-benar akan disakiti. "Ke mana Marissa? Kenapa dia malah pergi?" tanya Fanny di tempat Danendra. Mereka sedang berkumpul membicarakan Michael yang hilang.
Read more