"Renji ....akhirnya kamu masih ingat juga kalau kamu punya tanggungjawab?"Suara Reyhan lebih dulu memotong langkah lelaki itu. Tegas, menahan, sekaligus memperingatkan.Namun Renji seolah tak mendengar.Langkahnya tetap maju. Cepat. Nafasnya masih memburu, dadanya naik turun tak beraturan. Tatapannya tak lepas dari Nilna, seolah dunia hanya menyisakan satu titik itu saja.“Nilna…”Sebelum siapa pun sempat menghentikan, Renji sudah sampai. Tangannya langsung terulur, menarik tubuh Nilna ke dalam pelukannya.Gerakan itu spontan. Tanpa izin. Tanpa ragu.Namun, tubuh Nilna tidak menyambut.Ia justru menegang.“Lepas…”Suara Nilna bergetar. Bukan lemah, tapi menahan sesuatu yang membuatnya sesak. Renji tidak langsung melepas. Pelukannya malah mengerat sesaat, seolah takut kehilangan lagi.“Aku cari kamu… aku ....”“Lepas, Mas!”Kali ini lebih keras.Nilna mendorong dadanya. Tenaganya tak besar, tubuhnya masih lemah setelah melahirkan, namun cukup untuk membuat jarak di antara mereka terb
Read more