“Kamu yang lahiran kapan hari itu, ya?”Suara itu terdengar lagi. Lebih jelas. Lebih dekat.Nilna menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. Ia menoleh perlahan, menemukan seorang perempuan duduk bersandar pada dinding. Usianya sekitar lima puluh tahunan. Rambutnya mulai memutih, namun sorot matanya tajam, seolah sudah terlalu lama membaca manusia.Nilna tidak langsung menjawab. Hanya diam.Perempuan itu mengangguk kecil, seperti sudah tahu jawabannya tanpa perlu kata-kata.“Kelihatan,” gumamnya pelan. “Wajahmu masih bengkak. Mata sembab. Badanmu juga belum pulih betul.”Nilna refleks memeluk tubuhnya sendiri. Ada rasa tidak nyaman yang merambat. Bukan karena kata-kata itu, tapi karena cara perempuan itu melihatnya. Terlalu dalam.Seorang perempuan lain, yang tampak lebih muda, mungkin sebaya Nilna, mendengus pelan dari sudut lain.“Ngelahirin di penjara,” ucapnya sinis. “Kasihan banget anaknya.”Nilna menoleh. Tatapan mereka bertemu. Ada sesuatu yang dingin di sana.“Hei, hati-hati
Read more