Petugas memberi isyarat lebih tegas. "Waktu habis, Anda harus kembali menjalani sidang. Jadi saya harap Anda bisa koperatif."Kalimat itu terasa kejam."Tidak!" Nilna spontan menolak. "Saya tidak mau!" Tangannya semakin erat memeluk Anaya.Petugas mencoba mendekat. "Saudara Nilna, tolong bekerja sama.""Tidak!" suaranya pecah. "Dia anak saya!"Reyhan memejamkan mata sesaat. Lalu membuka lagi."Percaya sama aku," ucapnya pelan, mengabaikan canggungnya dengan memeluk Nilna. "aku akan mengurusnya dengan baik." Kalimat itu sederhana. Namun, entah kenapa... membuat Nilna berhenti.Hanya sesaat. Dia mendongak, menatap Reyhan."Kasihan dia, Nilna. Tolong berikan padaku.Nilna menangis tergugu di dekapan Reyhan. Napasnya tersengal. Tangannya gemetar. "Aku mau ikut.""Tidak bisa, Nilna. Percaya aku." Reyhan tanpa pikir panjang lagi berjalan membawa Anaya pergi. Suster mengikutinya."Mas, tunggu....!" Nilna melangkah cepat, berusaha mengejar. Namun, petugas langsung menahan."Tidak bisa!""Le
Read more