Zelena mengerjap-ngerjapkan mata, mencoba mengumpulkan kesadaran yang masih tertinggal di alam mimpi. Hal yang tertangkap oleh indra pendengarannya bukanlah deru kendaraan di jalanan Munich, melainkan suara yang sangat ia kenali. Tawa lepas Jeandra yang terdengar begitu renyah.Ia menoleh ke arah sofa. Di sana, Jeandra duduk dengan santai, hanya menggunakan boxer hitam dan bertelanjang dada. Ia memegang ponselnya dengan posisi horizontal. Wajahnya tampak sangat cerah, begitu kontras dengan cahaya musim gugur yang masih malu-malu mengintip dari balik jendela."Masa Om Nayaka gitu? Nanti Papa marahin ya kalau pulang," ucap Jeandra sambil tertawa lagi, mengabaikan fakta bahwa suaranya memenuhi seluruh penjuru suite tersebut.Zelena tersenyum tipis. Baru berpisah sehari dengan sang putri tapi rasa rindu sudah mencubit hatinya."Eh, sebentar, ini Mama sudah bangun," ujar Jeandra menyadari pergerakan di atas tempat tidur. Ia segera bangkit dan menghampiri Zelena, duduk di sisi kasur sam
Read More