Kavita melangkah cepat, nyaris berlari menembus kerumunan tamu yang sedang bercengkerama. Suara tawa Sheila yang tadi meremehkannya masih terngiang, beradu dengan suara berat Nayaka yang menyebutnya nepo baby dan manja, membuat dadanya terasa semakin sesak."Ta! Kavita, tunggu dulu!" Ghea bersusah payah mengejar hingga ia hampir terjatuh akibat tersandung sepatunya sendiri.Kavita berhenti setelah sampai di parkiran. Napasnya memburu. Matanya berkilat-kilat oleh air mata yang tertahan. "Ghe, kunci mobil. Kasih ke aku," Kavita menadahkan tangannya pada Ghea.“Buat apa?” tanya Ghea bingung karena setahunya Kavita tidak bisa menyetir.Kavita menatap Ghea dengan sorot mata yang tidak pernah Ghea lihat sebelumnya. Dingin, tajam, dan penuh luka. Tangannya masih menadah."Sini kunci mobilnya, Ghe. Kasih ke aku sekarang," ulang Kavita memaksa. "Ta, kamu bicara apa sih? Kamu, kan, nggak bisa nyetir.”"Aku bisa nyetir, Ghea! Kasih kuncinya!" Kavita setengah berteriak.Ghea tersentak ol
Read more