LOGINPesta pernikahan sepasang sejoli itu akhirnya terselenggara juga dan digelar dengan kemegahan yang sanggup menyilaukan mata siapa pun yang hadir. Diadakan di ballroom salah satu hotel bintang lima, ribuan tamu undangan datang memberikan selamat atas bersatunya dua keluarga pengusaha ternama.Di pelaminan, Zivanya tampak begitu memesona dalam balutan gaun pengantin berwarna putih tulang dengan model simpel namun elegan, sesuai dengan kepribadiannya. Ia tidak suka yang heboh dan berlebihan. Senyumnya tidak pernah luntur. Binar kebahagiaan terpancar di parasnya yang manis. Sementara itu, di sampingnya, Ariyan berdiri dengan gagah dalam jas pengantin berwarna senada. Ia tersenyum, menyalami tamu, dan sesekali menggenggam tangan Zivanya. Namun, bagi mata yang jeli, senyum lelaki itu tidak pernah benar-benar sampai ke matanya yang gelisah.Zelena berdiri di sudut area VIP bersama Jeandra. Matanya tak lepas menatap sang putra yang telah resmi menjadi suami orang.Sambil memerhatikan Ariya
Dengan langkah yang terasa berat, Ariyan berjalan menuju kamar utama. Ia sempat berhenti di depan pintu, menarik napas panjang untuk menetralkan sesak yang menghimpit dada sebelum akhirnya mengetuk pelan. Tidak ada jawaban atau sahutan. Akhirnya walaupun tidak diizinkan Ariyan tetap membuka pintu. Kamar itu redup. Hanya cahaya biru dari panel kontrol suhu di dinding yang berpendar pelan. Zelena berbaring miring, menatap kosong ke arah jendela besar. Ariyan melangkah mendekat, lalu berlutut di samping tempat tidur ibunya. "Ma,” panggil Ariyan. Ia mengambil tangan Zelena yang terasa dingin dan menggenggamnya erat. "Aku minta maaf. Maafin aku karena sudah jadi anak yang nggak tahu diri. Maafin aku karena mengecewakan Mama dan bikin Mama sakit.” Zelena memutar tubuh, menatap putra tunggalnya dengan sorot yang masih menyimpan kekecewaan. Ada luka yang begitu dalam di sana, namun juga ada cinta yang tak terbatas. "Mama nggak butuh maafmu, Ari. Mama cuma butuh kamu kembali menjadi ana
Zivanya sedang mengetik di kamar ketika pintu kamarnya diketuk yang diikuti oleh suara Seruni. “Ziva, udah tidur?” Tanpa beranjak dari tempatnya Zivanya menoleh ke arah pintu dan menjawab, “Belum, Mi. Masuk aja, pintunya nggak dikunci.” Pintu berwarna coklat itu terbuka perlahan. Tak hanya Seruni, ternyata Abi juga mengekor di belakang istrinya. Pemandangan ini cukup tidak biasa bagi Zivanya. Biasanya, jika hanya sekadar ingin mengecek keadaannya, cukup maminya saja yang datang. Kehadiran papinya menandakan ada sesuatu yang cukup penting untuk dibicarakan. ”Lagi ngerjain tesis?” Abi bertanya sembari melangkah mendekat. Ia menarik sebuah kursi kecil di sudut kamar ke dekat Zivanya dan duduk di sana. Sementara Seruni memilih duduk di tepi tempat tidur Zivanya yang rapi. Zivanya memutar kursinya, menghadap penuh kepada kedua orang tuanya. Ia tersenyum tipis. "Iya nih, Pi. Bab tiga tesis aku bagian analisis data ternyata lebih rumit dari yang aku bayangkan. Ada beberapa variabel y
Bagi Ariyan, menikahi Zivanya adalah hal yang tidak mungkin ia lakukan. Ia tidak mencintai gadis itu. Dan tidak akan pernah bisa.“Pa, kenapa harus menikah sekarang? Ziva masih kuliah, Pa. Dia lagi sibuk tesis. Biar dia fokus dulu.” Ariyan mencoba mencari alasan yang sekiranya logis demi menunda permintaan Jeandra.“Kuliah bisa diselesaikan sambil menikah. Dan soal tesis, bukannya malah bagus? Kamu bisa membantu dia, memfasilitasinya, kasih dia semangat,” jawab Jeandra tidak memberi celah.“Tapi aku nggak cinta sama dia, Pa!”“Nggak cinta? Buktinya kalian bertahan sampai sekarang. Sepuluh tahun Papa rasa bukan waktu yang sebentar. Zivanya adalah gadis yang baik, pintar, sopan dan yang Papa lihat dia sangat sayang sama kamu. Setelah menikah nanti kalian bisa mengenal lebih dekat lagi. Kadang hubungan fisik bisa mempererat ikatan emosional.”“Kalau aku tetap menolak?” tantang Ariyan.Jeandra tidak langsung menjawab. Ia menatap putranya itu lekat-l
Sejak kejadian malam itu rumah milik Jeandra dan Zelena terasa sepi. Zelena hanya berbaring di kamar. Ia menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menatap dinding dengan tatapan kosong. Air matanya sudah kering karena terlalu banyak menangis. Yang tersisa hanyalah gurat kelelahan yang sangat dalam di wajahnya yang kini tampak pucat dan tirus.Ia juga tidak ingin berbicara pada siapa pun.Jangankan pada Ariyan, bahkan pada Jeandra pun Zelena lebih banyak diam. Jika Jeandra mencoba membujuknya untuk sekadar minum air putih, Zelena hanya akan membalikkan badan membelakangi suaminya, lalu meringkuk di bawah selimut tebal seolah ingin menghilang dari dunia.Jeandra duduk di tepi tempat tidur. Ia mengusap lembut rambut Zelena. "My baby Zelena, makan sedikit ya? Kamu bisa drop kalau begini terus." "Hati aku sudah mati, Jeandra. Untuk apa aku kasih makan tubuhku yang udah nggak ada gunanya ini?""Jangan bicara begitu.”"Anak yang kita banggakan. Anak kita satu-satunya yang–” Zelena tidak s
Suara pecahan kaca yang bunyinya terdengar keras dalam keheningan malam membuat Ariyan dan Aira terkejut bukan kepalang. Aira yang tadi begitu berani dan penuh gairah, kini membeku dengan posisi masih menindih Ariyan. Ia terbelalak memandangi sosok Zelena yang berdiri kaku di ambang pintu.Ariyan dengan napas yang masih memburu dan dada yang terekspos sama terkejutnya seperti Aira. Jantungnya berdegup kencang, bukan lagi karena gairah, melainkan karena ketakutan yang teramat sangat. Ia melihat ibunya, wanita yang paling ia hormati dan sayangi tengah menatapnya dengan pandangan yang tidak sanggup ia jabarkan.Zelena masih berdiri mematung. Wajahnya pucat-pasi bagaikan mayat. Bibirnya bergetar mencoba mengeluarkan kata-kata, namun tidak ada suara yang keluar. Matanya yang tadi penuh kasih sayang saat mengenang masa lalu Ariyan, kini memancarkan kengerian, kekecewaan, dan rasa sakit yang tak terperikan.Ariyan mendorong dada Aira dengan kuat hingga perempuan itu terjatuh ke belakang di
“Mbak Kavita, ini ada undangan buat Bu Zelena dan Pak Jeandra.”“Makasih, Bi.” Kavita menerima undangan tersebut dari asisten rumah tangga kakaknya lalu masuk ke kamar.Setelah tiba di kamar, gadis itu menjatuhkan tubuhnya di kasur dan membuka undangan tersebut.Kavita membaca nama kedua mempelai d
Jeandra sempat terdiam ketika melihat anggukan kecil itu. Tadinya ia pikir Zelena akan menolak mentah-mentah niat baiknya. Tapi ternyata dugaannya salah. “Ayo, Zel,” ajaknya setelah terbangun dari ketermanguan. “Kita ke mana?” “Mall,” jawab Zelena singkat. Jeandra membukakan pintu mobilnya un
Pukul tujuh malam Zelena sudah rapi untuk menghadiri makan malam bersama keluarga Nayaka. Nayaka sendiri tidak tahu bahwa itu bukan hanya sekadar makan malam, namun perayaan ulang tahunnya juga. Pria itu sama sekali tidak curiga pada kejutan yang sudah disiapkan untuknya."Zelena!" Suara yang suda
Mobil Nayaka melaju meninggalkan area Mutiara Mall. Suasana di dalam mobil jauh lebih tenang dibanding hiruk-pikuk acara tadi.Zelena menyandarkan punggung, melepas heels-nya sedikit, melepaskan napas panjang.“Capek?” tanya Nayaka sambil melirik sekilas lalu fokus ke jalan.“Lumayan,” jawab Zelena







