Souvenir du Docteur Jamain merambat-rambat sebagai dahan tana subur, peristirahatan. Kulit tipis pada jari-jemari mungil menyapu panjangnya mantel hitam Burberry. Sesekali menangis, merengek, ototnya belum terbentuk siap mengekspresikan kekesalan. Lutut basahnya, baik isak tangis bayinya, tak Samuel indahkan. Kepalanya penuh, dadanya, sesak, tangannya sibuk menyeka bulir embun pada makam marmer berlapis kain microfiber Scotch-Brite.Cantik. Ibunya terlihat bagai wanita pengantin. Dunia Samuel terbagi dengan rengekan bayinya, dan rengekan dirinya—sebagai anak, rindu pada ibu, rindu pada wanita yang sempat memperkenalkannya cinta.Telapak tangan Samuel tercoreng sedikit luka goresan tipis, hampir kasar mata di kulit terangnya. Bekas luka yang Samuel sengaja tidak sembuhkan. Sebagai sisa terakhir peninggan ibunya.Dengan tangan yang sama, Samuel seka tepi makam sang ibu. “Ingat ini, Bu?” Telapak terangkat, ditunjukkan pad
Read more