تسجيل الدخول“Don’t get me started.”
“Why?”
“You know why.”
“Why?”
“For fuck’s sake, Jo—“
“Don’t curse in front of the baby.”
“No. We didn’t. She disappeared without a trace. Not even her parents know.”
“That’s weird...”
“Why so?”
Jahitan.Mesin pompa jantung.Selang oksigen.Napas bayi.Gemeresik keributan.Taut-tautan kepala Sienna kusut menyambung balik memori dalam mimpi buruknya belakangan ini. Sesekali percikkan kecil pembakaran Chibba Cigar menaungi suasana hati mendung. Kesibukan Victoria dengan layar ponsel serta senyumannya, terpantul silau pada sisi gelap Sienna. Tak mampu bangkit dari duduknya, tenggelam dalam lautan rasa bersalah.Silih berganti memutilasi raga jiwanya.Baccarat penuh whiskey amber pada celuk telapak Victoria tergoyang dari sentakan ponsel lain di sakunya. Sienna setia memangku dua tangan kaku begitu Victoria perlahan bangkit mengambil tasnya yang terjatuh tadi. Latar belakang ponsel berdering, suara seseorang, Victoria memasang kembali sepatu hak tingginya.“Aku tadi pulang sebentar, Sam. Ada keperluan. Oh, oke. Boleh, bisa. Bisa banget. Aku bisa menginap sampai besok, kalau kamu masih ada keperluan. What? Astaga, kayak sama siapa aja. No, no. don’t feel bad. Aku suka mengurus bay
“Sie!”Saat itu, mungkin Sienna merasa gravitasi sekitar tubuhnya berhenti berputar.Samar pantulan cermin gedung fakultas, berlarian sosok familiar terus berteriak dengan sebutan namanya. Semua orang mendengar. Terlalu kencang. Getaran vending machine jauh setara dari gema suara pemuda di sana.Sedikit—amat sangat sedikit, sebelum iris berkilat itu menabrak wajah pucatnya, darah pada tubuh Sienna turun seluruhnya.Jonathan.Gedung besar menutupi bagaimana Sienna bersembunyi. Napasnya tersangkut tiap langkah debaran, mengikuti Jonathan yang bersikeras mengejarnya.Panik menghantam sebelum Sienna bisa berpikir. Dua langkah cepat Ia ambil sampai hampir menabrak vending machine, berlarian sebelum Jonathan benar-benar menangkap sosoknya.“Sienna!” Jonathan—suaranya makin kencang. Sienna meringkuk sembunyi di balik lebatnya semak-semak. Amplop dokumen di tangannya hampir tergelincir kab
10 Januari, 20XX – Universitas Indonesia11.30 AM.Ring... Ring... Ring...Alarm meledak nyaring dari bantingan pintu kasar Lagun-Benz E-Class W214. Pemiliknya? Mengabaikan. Memilih berlarian mengejar sosok dengan punggung semakin jauh di dalam gerbang.Aroma panas aspal terbawa kakinya melengser hingga—“Sie! Shoot, maaf, Kak. Saya enggak sengaja.”Jonathan menunduk-nunduk setelah menabrak pundak seorang mahasiswa yang sedang berjalan.Kemana tadi Ia berlari—ah, Sienna. Mungkin kaca mobilnya menampilkan halusinasi, atau dirinya lah yang halusinasi. Apapun itu, Jonathan melihat Sienna. Sepatu Converse hitamnya dibawa cepat mengejar sosok yang mulai terlahap besarnya bangunan. Samuel menghilang entah kemana. ‘Fuck. Harusnya Sam lihat dia lebih dulu tadi!’ Jonathan meracau sendiri.“Kita bakal&md
“Don’t get me started.”“Why?”“You know why.”“Why?”“For fuck’s sake, Jo—““Don’t curse in front of the baby.”“No. We didn’t. She disappeared without a trace. Not even her parents know.”“That’s weird...”“Why so?”“Because... I clearly remember Sienna was the type who doesn’t like go alone. Or, maybe I was wrong all the time?”“...”“...”Suhu turun dari pucuk terujung Pigeon Thermo Bath Tub PX-204. Tubuh bayi diletakkan perlahan. Pertama, kakinya. Kedua, perutnya. Air hangat membasuh satu-persatu kumpulan daging yang baru belajar memahami engselnya.Perekat diapers ditarik, kemudian
Jarum terpendek bergeser dari angka 03:17 dini hari.Kedip merahnya memantul pada permukaan licin Charles Avent Natural Baby Bottle sebagaimana seorang pemuda, berdiri terhuyung tak kuasa menahan pedas mata.Tumpah setengah, beberapa ikut tercecer ke bawah baby handle box Graco Benton—bukan pertama kalinya. Untuk malam ini saja, Samuel salah empat kali meracik susu formula.Bau susu, bau asam. Udara ruangan belum sempat disirkulasikan, semua menumpuk menyatu dengan kelelahan Samuel yang tak terjelaskan. Sekali lagi, dengan mata berkantung bengkak, tangannya meraih empat sendok Siliac Premium Infant Formula, mengaduknya ke dalam botol susu.Dahi pucat sang pemuda berbenturan dengan dinding di depannya. Hampir, Ia jatuh tertidur lagi. Botol susu hangat dibawanya cepat, sembari menetes-neteskan beberapa ke punggung tangan. Dipakaikan lagi sarung tangan yang tadi sempat dilepas—juga, baby feed handle berbentuk b
Sienna Halim‘Tangan... kaki...’‘Apa memang terasa sejauh ini?’Pusat dari segalanya——transversus abdominis. Mataku gagal melihat. Pembuluh darah pecah—mungkin. Daripada merah, gelap justru yang kurasa.Kesibukan di kanan kiri, atau… tubuhku? Bagian paling mengerikan tadi sudah lewat—kurasa—aku sudah berhasil melahirkan.‘Benarkah, begitu?’“Selamat, Bu Sienna! Anak perempuan yang cantik!”Seorang perawat yang distorted wajahnya datang terburu-buru. Tangan dan perut perawat itu dipenuhi darah yang bukan dirinya. Seonggok daging dibawa ke depan mata. Hangat, lunak, mungil. Tanpa tangisan, sebagaimana yang manusia harapkan.Daging mungil itu menggeliat. Membran irisku membatasi antara gerak naik-turun dadanya—atau, sebenarnya tidak pernah ada?&ld
Terdapat beberapa baris tersembunyi yang tidak dimunculkan, peraturan tidak tertulis tentang penggunaan toilet sekolah.Dilarang terlalu lama. Dilarang terlalu berisik. Dilarang melakukan hal tidak berkepentingan. Dilarang menggunakan toilet bukan sebagai fungsinya.Dan, Jonatha
Sienna membuka air keran.Restroom ini bau air basi dan besi. Kucuran air Ia biarkan lebih dulu mengalir, mendahului pikirannya yang sekusut gulungan benang. Pada belakang tubuhnya, Jonathan terduduk melamun pada badan toilet. Pemuda itu bernapas, tetapi Sienna merasa sedang me
Setiap suapan dinikmatinya tanpa bernapas. Seseorang akan menyangka Henri telah membuat putrinya kelaparan jika melihat semua ini. Tidak bisa menyalahkan, Samuel membuat sepiring nasi putih menjadi hidangan yang nikmatnya setara dengan serbuk narkoba. Mual sempat mengganggu perutnya tatkala dipaks
Sienna Halim POVCutter ini terlalu ringan untuk membuatku jauh ke rasa aman. Terang-terangan, bukan ini adegan yang kuinginkan pada sore yang melelahkan. Saat langkahku menderap maju, ketukan kedua datang lebih buas dari sebelumnya. Sempat kutengok daun pintu. Terlintas di pikiran, perlukah kupan







