Aku menghela nafas berat, pura-pura tidak peduli dengan ocehan Nyonya Alika ke Shella, tapi telingaku terus mendengarkan obrolan mereka."Istirahat mental itu boleh, Shella, Mama nggak ngelarang kamu liburan. Tapi caranya yang elegan dong," ceramah Nyonya Alika mulai keluar, nadanya terdengar seperti guru yang sedang memarahi murid bodoh."Kalau mau healing, kamu bisa terbang ke Singapura, ke Bali, atau ke Paris sekalian. Nginep di hotel bintang lima, spa, shopping. Bukan malah kabur ke kampung kumuh yang becek, tidur di gubuk sopir, terus matiin hp kayak orang buronan.""Apa kata kolega bisnis kita kalau mereka tau anak Nyonya Alika lari ke desa terpencil cuma buat ngurusin pemakaman orang miskin? Citra keluarga kita bisa rusak, Shella. Orang bakal mikir kamu ada main sama sopir, atau kamu lagi kena masalah narkoba sampai harus sembunyi," lanjut Nyonya Alika tanpa rem, kata-katanya meluncur tajam menghina harga diriku dan Shella sekaligus.Aku mencengkeram setir mobil semakin kuat hi
Last Updated : 2026-01-19 Read more