Nyanyian itu makin jelas. Suaranya lembut, nyaris seperti suara ibu yang meninabobokan anaknya. Namun ada sesuatu yang aneh—nada sendunya terasa hampa, seperti gema dari tempat yang tidak memiliki cahaya.Nara berdiri terpaku. “Suaranya… sangat dekat…”Raka segera berdiri di depannya, melindungi dengan tubuhnya. “Jangan lihat ke arah suara itu. Apapun yang terjadi, tetap tatap aku.”Laksmi menancapkan tongkat ke tanah. Cahaya biru menyebar pelan, namun nyanyian itu tidak surut. Justru semakin kuat, seolah mengabaikan batas sihir yang diciptakan Laksmi.“Kita harus bergerak,” kata Laksmi dengan panik terpendam. “Nyanyian itu bukan sekadar suara. Ia menarik jiwa. Kalau kita diam di sini terlalu lama, Nara bisa kembali terhubung pada perjanjian lama.”“Perjanjian lama…” Nara mengulang pelan, gemetar.Nyanyian berubah menjadi gumaman halus:“Kembali…pengantin…kembalilah…”Nara merinding. “Dia memanggilku seperti aku… cucunya.”Laksmi menelan ludah sebelum menjawab, “Karena menurut garis
Last Updated : 2025-12-12 Read more