Seminggu telah berlalu, namun bagi Guntur Ragendra, waktu seolah berhenti berputar di tempat yang sama. Langit Jakarta yang mulai mendung seakan mencerminkan suasana hatinya yang kian kelabu. Seperti rutinitas yang ia jalankan selama tujuh hari terakhir, Guntur kembali berdiri di depan nisan marmer putih milik Elenora, menatap nama Elenora yang terukir indah. Pikirannya berkecamuk. Angin sore berhembus cukup kencang, menerbangkan beberapa helai kelopak bunga kamboja yang jatuh di atas makam. Guntur terbatuk pelan, jemarinya yang keriput mencengkeram kepala tongkat eboninya dengan sangat erat.Di belakangnya, Prabu berdiri dengan kecemasan mendalam. Prabu menyadari perubahan fisik tuannya yang sangat drastis. Cara jalan Guntur kini lebih lamban, tubuhnya nampak semakin membungkuk, dan wajahnya kini nampak pucat pasi dengan guratan kelelahan.Sebagai orang kepercayaan yang telah mengabdi puluhan tahun, Prabu menyadari ada yang salah dengan kesehatan Guntur. Namun, bukan hanya kondisi
Read more