Di salah satu sudut, tak jauh dari pintu kamar presidential suite tempat Aira dirawat, Guntur Ragendra berdiri mematung. Tubuhnya kini nampak rapuh. Kedua tangannya mencengkeram kepala tongkat eboni dengan sangat kuat. Guntur menunduk, menatap lantai marmer yang mengilap. Kabar tentang kehamilan Aira yang disampaikan Prabu beberapa saat lalu adalah hantaman telak. Ada kehidupan baru di dalam rahim cucunya, satu-satunya pewaris darah murni Ragendra yang tersisa, dan nyawa itu hampir saja melayang karena ambisi kolotnya.Prabu berdiri di samping Guntur, menatap tuannya dengan pandangan prihatin. "Tuan Besar, Nona Aira sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Mengapa kita tidak masuk? Anda berhak melihatnya."Guntur menggeleng pelan. "Tidak, Prabu. Aku tidak punya nyali untuk menatap wajahnya. Setiap kali aku menutup mata, aku melihat wajah Elenora yang menangis, dan sekarang wajah Aira yang hancur. Aku... aku terlalu malu.""Nona Aira pasti merindukan Anda, Tuan. Anda adalah keluarganya,"
Read more