Aira berdiri dengan apron terikat di pinggangnya, sesekali mengaduk kaldu bening di dalam panci keramik. Ia nampak sangat telaten, memastikan setiap potongan sayur dan ayam kampung itu empuk sempurna.Adriel berdiri di ambang pintu dapur, bersandar pada kusen kayu sembari melipat tangan di dada. Ia sudah mengenakan setelan jas lengkap, siap untuk mengawal istrinya menjalankan perjanjian yang mereka sepakati semalam."Satu jam, Aira. Tidak lebih." Adriel mengingatkan untuk yang kelima kalinya pagi itu.Aira menoleh, memberikan senyum manis. "Iya, Sayang. Aku tahu. Supnya sudah siap, bantu aku menuangkannya ke dalam termos, ya?"Adriel mendengus, namun langkah kakinya tetap mendekat. Ia membantu Aira dengan cekatan. "Seharusnya aku tidak membiarkanmu memasak sepagi ini. Kamu bisa kelelahan.""Memasak untuk Kakek adalah bentuk terapiku juga. Aku merasa lebih berguna daripada hanya berdiam diri di ranjang," sahut Aira lembut.Sepuluh menit kemudian, iring-iringan tiga mobil hitam mewah me
Read more