Bianca menatap gelas kristal di hadapannya dengan tatapan sinis. Meskipun debar jantungnya tak keruan melihat ketampanan Adriel dalam keremangan cahaya, ia tetaplah penuh curiga."Jangan bertele-tele, Sir V," ketus Bianca sembari melipat tangan di dada. "Kamu ingin bertanya soal Aira, kan? Kamu ingin menuduhku atau papaku atas hilangnya istri tercintamu itu, kan?"Adriel tidak langsung menjawab. Ia justru menyesap wine merahnya dengan tenang, matanya yang tajam menatap Bianca dari balik tepian gelas. Perlahan, ia meletakkan gelas itu kembali ke atas meja marmer. Sebuah senyum tipis yang nampak begitu memikat terukir di wajahnya."Aira?" Adriel mengulang nama itu dengan nada meremehkan. "Kenapa semua orang berpikir aku begitu terobsesi padanya? Jujur saja, menghilangnya Aira justru memberiku ketenangan yang sudah lama tidak aku rasakan."Bianca tertegun. Matanya membelalak tak percaya. "Apa maksudmu?""Dia hanya pembawa masalah," lanjut Adriel. "Guntur Ragendra menekan bisnisku, Leonid
Read more