Adriel Varmadeo masih berdiri tegap di tempatnya. Mata hitamnya menatap lurus potongan kepala elang yang berlumuran darah di atas meja kaca. "Marcus," panggil Adriel. "Saya di sini, Tuan Adriel," jawab Marcus cepat. "Tutup kotaknya. Bawa keluar dari ruangan ini, dan lakukan sterilisasi udara sekarang juga. Jangan biarkan bau busuk ini mengganggu istri dan anakku," perintah Adriel datar, nadanya murni tanpa emosi yang meledak-ledak. "Baik, Tuan," pungkas Marcus. Dengan hati-hati, ia memasang kembali penutup kotak hitam tersebut, lalu membawanya keluar menuju ruang di koridor belakang. Aira yang berdiri beberapa langkah di samping sofa perlahan mengembuskan napas yang sempat tertahan. Wajahnya masih tampak pucat, tetapi binar matanya berangsur-angsur kembali fokus. Ia merapatkan dekapan tangannya pada selimut beludru yang membungkus tubuh Elenora Jasmine. "Adriel..." panggil Aira, melangkah mendekati suaminya. "Paman Victor sudah benar-benar melewati batas. Pria itu sudah keh
Baca selengkapnya