เข้าสู่ระบบTepat pukul delapan pagi, ketika kawasan Sudirman dan Thamrin mulai dipadati oleh kendaraan para pekerja, foto eksklusif Leonidas Varmadeo yang sedang duduk sembari menimang bayi Elenora Jasmine tersebar ke seluruh portal berita utama dan media sosial.Narasi yang menyertainya sangat bersahaja:"Terima kasih, Papa, karena telah membawa berkat bagi generasi baru kami."Dalam hitungan menit, media finansial yang semalam sudah menyiapkan tajuk utama tentang kegagalan Varmadeo Group di Zurich mendadak kelabakan. Fokus para analis pasar modal, taipan bisnis, hingga netizen awam bergeser seratus delapan puluh derajat. Isu keretakan internal klan Varmadeo tertutup rapat oleh narasi solidnya hubungan antara Adriel sebagai CEO muda dan Leonidas sebagai pendiri dinasti bisnis.Pukul 08.30 WIB, halaman depan gedung Varmadeo Tower sudah dikerumuni oleh puluhan awak media nasional dan internasional. Mereka menunggu konfirmasi resmi terkait rumor Zurich sekaligus foto Leonidas.Adriel baru saja tib
Adriel Varmadeo melangkah lambat menuruni koridor dari arah ruang kerja bawah tanah. Fisik dan mentalnya terkuras habis setelah berjam-jam menahan gempuran sabotase siber Victor dan mengintimidasi Hans Meyer di Zurich. Meskipun matanya memancarkan kelelahan yang pekat, binar kejam penuh kemenangan masih tersisa di sana.Cklek.Adriel mendorong pintu kamar tidur utama dengan gerakan yang sangat pelan, berusaha tidak menimbulkan kebisingan. Namun, begitu kakinya melangkah masuk, ia mendapati sosok Aira sudah duduk bersandar di kepala ranjang.Aira tidak sedang tidur. Di atas meja nakas di sampingnya, mengepul asap tipis dari segelas air putih hangat yang baru saja dituang."Belum tidur, Sayang?" sapa Adriel, suaranya terdengar serak.Aira menoleh, lalu mengulas senyuman yang teramat teduh. Ia segera menurunkan kedua kakinya dari ranjang, melangkah mendekati Adriel tanpa alas kaki. "Bagaimana aku bisa tidur nyenyak kalau tahu suamiku sedang bertaruh nyawa?"Adriel terkekeh pendek. Ia mem
Sepertiga malam di gedung pencakar langit Varmadeo Tower, Jakarta Pusat, seharusnya menjadi waktu di mana semuanya beristirahat. Namun, tepat pada pukul tiga dini hari, di lantai dua puluh—ruang pusat kendali siber dan teknologi informasi Varmadeo Group—terdengar raungan sirene sistem yang melengking nyaring. Lampu indikator merah berkedip-kedip, memantulkan bayangan panik di wajah belasan analis keamanan data yang mendadak terjaga dari kantuk mereka."Anomali besar! Protokol pertahanan lapis ketiga runtuh dalam hitungan detik!" teriak salah seorang teknisi senior, jemarinya bergerak di atas papan ketik dengan kecepatan penuh. "Seseorang sedang mengirim ransomware langsung ke dalam jaringan inti kita!""Di mana titik penetrasi utamanya?!" bentak kepala divisi TI yang baru saja tiba."Bukan di Jakarta, Pak! Titik penetrasinya berada... di Zurich, Swiss!"***Di dalam ruang kerja bawah tanah mansion, Adriel duduk di balik meja jati besar. Meskipun jam dinding digital telah bergeser ke a
Leonidas memperbaiki posisi duduknya. "Wanita itu... berani sekali dia datang ke rumahku seolah sedang berkunjung ke rumah orang tuanya. Dan yang lebih gila, dia berani menceramahiku."Aira melipat kedua tangannya, mendengarkan dengan penuh perhatian tanpa memotong sedikit pun."Dia bilang, keluarganya memiliki harga diri dan ketulusan yang tidak bisa dibeli dengan apa pun," lanjut Leonidas, nadanya meninggi satu oktav. "Berani-beraninya seorang dosen biasa bicara soal harga diri di depanku! Dia pikir, dengan bermodalkan kata 'cinta' kekanak-kanakan itu, dia bisa menghidupi Alex jika aku benar-benar menggunakan kekuatanku untuk meratakan bisnis Alex?"Aira menarik napas panjang, ia menatap mata ayah mertuanya dengan pandangan yang teramat tenang. "Lalu, menurut Papa... apa Kak Elise salah?"Leonidas membelalakkan matanya, sedikit terkejut. "Apa kamu bilang? Tentu saja dia salah! Varmadeo Group sedang digempur habis-habisan oleh Victor saat ini, Varmadeo Group membutuhkan suntikan moda
Aroma rumput yang baru dipotong berpadu lembut dengan wangi teh melati yang diletakkan di atas meja kaca kecil di sudut beranda belakang.Aira duduk di atas kursi ayunan kayu ek, bergerak maju mundur dengan ritme yang teramat pelan. Di dalam dekapannya, Elenora Jasmine menggeliat kecil. Bayi perempuan mungil itu mengenakan rajutan bando kain berbentuk bunga melati kecil di kepalanya. Jemari mungil Elenora yang kemerahan sesekali bergerak tak tentu, sebelum akhirnya kembali mencengkeram erat ujung daster yang dikenakan Aira."Cup... cup... anak pintar, tidurlah," bisik Aira teramat lembut. Aira menundukkan kepalanya sedikit, mendaratkan sebuah kecupan ringan yang lama di pipi gembil Elenora. Sebagai seorang ibu dan istri, area beranda belakang ini adalah tempat terbaiknya. Serafina muncul dengan guratan tegang yang teramat pekat di wajahnya."Nyonya Aira," sapa Serafina, suaranya ditekan serendah mungkin agar tidak mengejutkan bayi yang hampir terlelap.Aira menghentikan ayunan kakin
Kompleks rumah besar bergaya kolonial klasik itu tampak sunyi, dikelilingi oleh pilar-pilar beton putih yang menjulang tinggi, memancarkan keangkuhan sebuah dinasti bisnis yang telah berdiri selama puluhan tahun.Elise berdiri di koridor luar yang menghubungkan area taman dengan ruang makan. Ia mengenakan terusan gaun midi berlengan panjang berwarna biru dongker—pakaian terbaik yang ia miliki. Sejak menerima undangan makan siang mendadak dari asisten pribadi Leonidas pagi tadi, rongga dadanya tidak pernah benar-benar lapang.Alexander sempat mengamuk saat mengetahui kabar ini dan melarangnya keras untuk datang. Namun, Elise dengan lembut menolak. Ia tahu betul, jika ia terus bersembunyi di balik punggung Alexander, maka Leonidas tidak akan pernah menganggapnya ada. Ini adalah ujian pertama yang harus ia lalui sebagai istri dari seorang Alexander Varmadeo.Seorang pelayan pria tua berjas rapi membungkuk hormat di depannya. "Nyonya Elise, Tuan Besar Leonidas sudah menunggu Anda di dalam







