로그인Valerie menggeliat pelan di atas ranjang. Ia mengusap mata yang masih terasa berat, refleks mengulurkan tangan ke samping kanan ranjang untuk mencari sosok Dimitri.Dahi Valerie berkerut halus. Ia duduk di atas kasur, menarik selimut untuk menutupi dadanya, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kamar.Di sudut ruangan dekat jendela raksasa, Dimitri sudah berdiri tegap, matanya menatap lurus ke arah layar ponsel dengan raut wajah yang sulit ditebak."Dimitri...?" panggil Valerie.Valerie menyibakkan selimut. "Kenapa kamu sudah rapi sepagi ini? Ini baru jam enam pagi..."Dimitri mematikan layar ponsel, menarik napas panjang yang amat dalam. Lalu menatap Valerie."Saya harus pergi sekarang, Bu Dosen," sahut Dimitri datar."Pergi...?" ulang Valerie dengan mata yang membelalak. "Pergi ke mana?! Bukankah pemeriksaan di Mabes Polri baru dimulai jam sembilan pagi nanti?!""Saya ada urusan pribadi yang sangat penting sebelum itu," balas Dimitri tenang.Melihat Dimitri yang bersiap melang
Dimitri mengetuk pintu secara teratur dua kali.Hanya dalam hitungan detik, kait pengunci pintu berbunyi kencang. Pintu terdorong terbuka lebar dari dalam.Valerie Collins berdiri di ambang pintu. Ia hanya mengenakan lingerie sutra tipis berwarna hitam yang membentuk lekuk tubuhnya secara menerawang. Di matanya, pendaran gairah terpancar kuat saat melihat sosok Dimitri."Kamu... kamu benar-benar datang, Dimitri..." desah Valerie."Saya selalu menepati janji saya, Bu Dosen," sahut Dimitri datar, melangkah masuk.Valerie menutup pintu, lalu memutar kuncinya dua kali. Tanpa membuang waktu, ia berbalik dan menunjuk ke arah meja konsol di dekat cermin raksasa.Di atas meja kayu tersebut, tergeletak setumpuk berkas dokumen"Aku sudah mendapatkan semuanya!" ungkap Valerie, sedikit pongah. "Aku menyuruh tiga kenalanku di dinas kependudukan, pengacara keluarga Hartanto, dan mantan kepala arsip rumah sakit swasta untuk membongkar dokumen ini dalam waktu kurang dari dua jam!"Dimitri tidak langs
Pendaran lampu-lampu pencakar langit Jakarta dari balik jendela kaca raksasa menembus temaramnya ruangan, membiaskan siluet Dimitri yang berdiri mematung sendirian dengan cangkir kristal berisi whisky di tangan.Dimitri tidak menyentuh minumannya. Matanya menatap kosong ke arah deretan mobil yang melaju di jalanan ibu kota jauh di bawah sana.Di dalam benaknya yang biasanya bagaikan mesin hitung, gema suara Aira dari pertemuan mereka tadi siang masih terus berputar."Kamu hanya akan menemukan kenyataan bahwa wanita yang sangat kamu benci ini... adalah orang yang sama-sama menjadi korban dari kejamnya ego dan kesalahan generasi sebelum kita..."Urat-urat di pelipis Dimitri menegang."Bohong..." desis Dimitri sangat pelan. "Aira Varmadeo tidak mungkin semenderita itu..."Dimitri meneguk cairan whisky pahit itu dalam satu hentakan napas, membiarkan rasa terbakar di tenggorokannya menetralkan rasa cemas di hati. Pria itu memutar tubuh, berjalan menuju sofa kulit hitam di tengah ruangan.I
Aira menautkan kedua jemari tangannya yang dingin. Dadanya berdebar kencang setiap kali mendengar suara desau angin malam dari luar jendela. Bayangan akan persidangan besok pagi, kesaksian kotor yang disiapkan Dimitri, serta tatapan dingin Adriel terus berputar menyiksa benaknya.Srekk...Suara deru mesin mobil mewah yang memasuki pelataran gerbang utama akhirnya terdengar samar-samar dari lantai bawah.Aira seketika terperanjat. Ia mengusap bekas air mata di pipinya, merapikan gaun secara terburu-buru, lalu melangkah pelan mendekati pintu kamar.Cklek.Adriel melangkah masuk.Aira menarik napas panjang, melangkah mendekati suaminya, berusaha menyunggingkan senyuman paling hangat."Kamu... kamu sudah pulang?" sapa Aira pelan.Adriel tidak langsung menjawab. Pria itu bahkan tidak mengalihkan pandangan matanya ke arah Aira. Ia hanya mengangguk tipis, melangkah melewati Aira begitu saja menuju meja rias untuk meletakkan kunci mobil.Aira menelan ludah."Adriel... biar aku bantu melepas j
"Sudah selesai bicara, Dimitri?" tanya Aira pelan.Dimitri terperanjat melihat ketenangan Aira. "Apa kamu tidak mendengar ucapanku?! Ibumu hanyalah anak dari seorang wanita simpanan! Kamu tidak punya hak sedikit pun atas nama besar klan Ragendra!"Aira tersenyum."Aku mendengar setiap kata yang keluar dari mulutmu, Dimitri," sahut Aira, melipat kedua tangan di atas meja. "Aku tahu soal status mamaku, lebih dari cukup."Dimitri mendengus kasar. "Lalu kenapa kamu meminta warisan dari Guntur?! Apa kamu belum puas punya suami kaya raya, hah?!""Amanah kepemimpinan Yayasan Ragendra bukan karena aku memintanya," terang Aira. "Kakek Guntur menyerahkannya kepadaku, karena menganggap tidak ada lagi penerus yang memiliki darah yang sama dengannya.""Karena tua bangka itu tidak tahu bahwa aku ada!" bentak Dimitri dengan mata memerah. "Dia dibutakan oleh rasa bersalahnya pada ibumu, sampai-sampai dia menyerahkan seluruh warisan itu pada cucu haram seperti kamu!""Harusnya kamu datang lebih cepat,
Dimitri masih terduduk kaku. Cengkeraman jemarinya pada cangkir mengetat hingga buku-buku jarinya memutih. Foto ibunya, Elena Volkov, masih tergeletak di atas meja.Dimitri memejamkan matanya sejenak. Pria itu menghembuskan napas panjang secara perlahan, mencoba tenang."Kebohongan yang sangat luar biasa, Aira..." cela Dimitri. "Ternyata rasa takut akan dipenjara lima belas tahun membuat imajinasimu berkembang sangat liar."Dimitri terkekeh kencang."Baskara Ragendra? Elena Volkov? Sepupu?" ejek Dimitri, menggelengkan kepalanya heran. "Kamu membawa nama-nama itu hanya untuk membuat skenario palsu agar aku merasa bersalah? Sangat picik, Aira. Sangat picik."Aira tidak terpengaruh. Wajahnya tetap tenang, tanpa ada sedikit pun raut kemarahan. Ia terus menatap Dimitri seolah tak berkedip."Kamu bisa tertawa dan mengelak sesukamu, Dimitri," ucap Aira. "Tapi kamu tidak bisa menghapus kenyataan bahwa darah yang mengalir di dalam tubuhmu adalah darah yang sama dengan darah klan Ragendra."Dim
Aira masih duduk di kursi yang disediakan untuknya. Ia masih bisa merasakan tatapan tamu-tamu yang menertawakannya di aula tadi.“Aira, duduklah di sisi Adriel,” tukas Leonidas. Suaranya yang berat membuat Aira sedikit tersentak.Aira terbelalak kecil. Adriel menoleh sebentar, ekspresinya datar. Ta
Pagi itu Aira dibawa Marcus ke sebuah suite megah di hotel bintang lima. Di sana, tim perias terbaik negeri ini sudah menunggu.Aira terpaku. Ia mengenali mereka. Mereka adalah perias selebritas, desainer pemenangpenghargaan, dan hairstylist yang biasa muncul di acara penghargaan besar.Seorang pr
Setelah pertemuan singkat tapi menegangkan dengan asisten Sir V, Aira pulang.Berhadapan dengan asistennya saja sudah begitu menakutkan, apalagi Sir V langsung.Aira membuka pintu ruang kerja ayahnya dan melihat Adrian duduk dengan wajah penuh tekanan. Marissa dan Bianca juga ada di sana.“Bagaiman
Di depan rumah, sebuah mobil hitam panjang dengan kaca gelap sudah menunggu. Marissa dan Bianca, ibu tiri dan saudari tiri Aira, memperhatikannya dari teras, seolah ini hiburan terbaik mereka dalam setahun terakhir.Sementara Aira menelan ludah, lalu membuka pintu mobil dengan tangan gemetar.“Sela







