“Baik, Pak,” jawab Aneya, “hanya saja, saya tidak ingin merepotkan,”“Jangan berpikir seperti itu,” ujar Ravin.Nada suara pria itu terdengar tenang, tidak menekan. Aneya mengangguk kecil. Ia tidak menambahkan apa pun lagi.Aneya dapat merasakan sisi lembut pria itu sesaat. Ravin tidak berkata apa-apa, hanya mengulurkan tangan sebentar, mengusap rambut Aneya dengan gerakan pelan.Sentuhan itu berlangsung singkat. Namun, cukup untuk membuat dada Aneya menghangat sekaligus sesak.Ravin berbalik menuju mobil. Mesin menyala, lampu depan menyorot sebentar sebelum akhirnya menjauh. Aneya berdiri di teras hingga suara mobil itu menghilang dari ujung jalan.Ia baru bergerak setelah itu. Di dalam rumah, televisi ruang tengah menyala. Suara acara berita terdengar samar. Orang tuanya sudah pulang lebih awal dari biasanya.Aneya melangkah pelan menuju kamar, ia tidak ingin ditanya apa pun malam ini. Sepasang pakaian dan handuk diraih Aneya dengan cepat, lalu menuju kamar mandi.Ia mengambil waktu
Read more