Kening Aneya berkerut. Ia menatap Ravin lekat, seolah mencoba memastikan pria itu sedang bercanda. “Ravin,” panggil Aneya, “bukankah tadi kau sudah berjanji?” Ravin mengembuskan napas pelan. Senyum tipis di wajah pria itu belum sepenuhnya hilang, tetapi sorot matanya berubah lebih lembut. “Aku ingat, dan aku tidak sedang membahas janji yang tadi,” balas Ravin sederhana. Pria tersebut terdiam sejenak. Aneya masih menatapnya, menunggu kalimat berikutnya. “Hal yang kumaksud adalah transfer setelah gajimu masuk. Anggap saja itu hadiah dariku,” lanjut Ravin dengan senyum tipis kembali menghiasi wajahnya. Bibir Aneya terbuka hendak menyela. Namun, Ravin lebih dulu mengangkat telapak tangannya pelan, seolah memohon agar ia mendengarkan sampai selesai. “Tolong, jangan buru-buru menolaknya. Terimalah sebagai ketulusanku, bukan karena kau merasa berutang apa pun padaku,” tandas Ravin lebih lembut. Aneya terdiam. Pandangannya terus bertahan pada wajah Ravin, berusaha mencari se
閱讀更多