Aneya terkesiap. Ia berpikir beberapa saat sebelum menyahut pertanyaan dari Ravin.“Yakin, Pak? Hari ini saya tidak bawa laptop dan dokumen lainnya ada di komputer,” jawab Aneya mencoba memastikan.Pria itu tidak merespons, ia bisa melihat Ravin yang tengah beralih menatap jam tangan. Sepersekian detik kemudian, tatapan Ravin kembali padanya, ringan dan tidak menegang seperti pada umumnya.“Kalau begitu lanjutkan di ruanganmu, kembali lagi setelah selesai,” ujar Ravin ringan.“Baik, Pak,” sahut Aneya.Baru saja Aneya beranjak dari kursinya. Pintu ruangan Ravin terbuka, beberapa orang muncul, ia tahu salah satu dari mereka adalah kepala divisi lain dan sisanya adalah karyawan dari divisi tersebut.Untungnya Ravin tidak melakukan hal frontal seperti kemarin. Jika hal tersebut terjadi, tentunya bukan hanya sanksi sosial yang mereka dapatkan.“Permisi,” ucap Aneya sembari tersenyum pada karyawan yang lain.Mereka membalas sapaan dari Aneya dibarengi dengan anggukan kecil. Aneya akhirnya k
Read more