“Kita bertemu semalam di restoran, kau lupa?” tanya Ravin.Aneya membeku beberapa detik. Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk membuat pikirannya berhenti bekerja sejenak. Kursor di layar berkedip pelan seolah menunggu perintah yang tak kunjung datang. Ia tidak langsung memberi respon. Kalimat itu terdengar ringan, namun caranya dilontarkan terlalu dekat, terlalu tiba-tiba, dan terlalu spesifik.“Mungkin salah orang,” jawab Aneya akhirnya.Suaranya tenang, tidak bergetar. Ia memalingkan wajah ke arah monitor, berpura-pura memeriksa berkas yang sudah ia buka sejak pagi.Ia mendengar langkah kaki Ravin mendekat. Aneya menegakkan punggung, bahunya menegang sedikit. Jarak di antara mereka tersisa beberapa senti, hingga ia bisa menangkap aroma tubuh pria itu. Maskulin, bercampur dengan wangi kopi.“Tidak perlu menutupi sesuatu dariku,” ujar Ravin tenang.Justru karena itu, Aneya memilih diam. Ia tidak mengangguk, tidak pula menyangkal. Ia hanya menatap layar, berusaha menjaga wajahnya te
Read more