Pertanyaan itu terdengar profesional, tapi ada nada berbeda di sana, lebih tenang dan tidak setegang pagi tadi. Aneya menceritakan secara ringkas apa yang perlu ia sampaikan. Ia memilih kata-kata yang rapi, memastikan tidak ada emosi yang menyelip di antaranya.Percakapan mereka sederhana seperti biasa. Namun, sebelum mengakhiri, Aneya dapat mendengar deheman kecil keluar dari pria itu.“Sudah sampai rumah?” tanya Ravin kemudian.Pertanyaan itu membuat Aneya terdiam sepersekian detik. Sebelum ia kembali membuka mulutnya.“Sudah, Pak,” jawab Aneya.“Baik,” balas Ravin, “Istirahat yang cukup, jangan begadang,”Dadanya kembali menghangat. Hanya sebuah himbauan ringan, tetapi cukup untuk membuat malamnya terasa berbeda.“Anda juga, Pak,” balas Aneya pelan.Beberapa detik kemudian, panggilan itu berakhir. Layar ponsel kembali gelap.Aneya tetap duduk di tepi ranjang, ponsel masih di genggaman. Handuknya mulai terasa dingin di kulit. Namun, senyum tipis tak bisa ia tahan. Tidak ada kalimat
Read more