“Karena saya tidak ingin mengenalmu hanya dari laporan dan hasil kerja,” ujar Ravin, “dan saya ingin kau mengenal saya tidak hanya sebagai orang yang selalu tegas, jarang berekspresi, suka mengkritik, atau hanya sebagai atasanmu,”Sudut bibir Aneya terangkat tipis. Ia menyelipkan sisa rambut ke arah telinganya.“Pak Ravin memang cukup sering mengkritik,” ujar Aneya.“Karena potensimu lebih besar dari yang kau kira,” timpal Ravin.Kalimat itu membuat Aneya kehilangan kata-kata selama beberapa detik. Ia menatap piringnya yang hampir kosong, mencoba menyusun ulang pikirannya yang terasa sedikit berantakan.“Pak Ravin,” panggil Aneya pelan.“Iya?” sahut Ravin.“Bapak tidak takut batas itu jadi terasa kabur?” tanya Aneya.Ravin tidak langsung menjawab pertanyaannya. Pria itu menarik kursi lebih dekat ke meja, seraya menatapnya dengan lebih serius.“Saya sangat sadar batas itu ada,” kata Ravin tegas, “dan saya tidak berniat melanggarnya,”Nada suara pria itu membuat Aneya yakin bahwa Ravin
Read more