Suasana di apartemen Arga terasa jauh lebih hangat sejak Grace tinggal bersama mereka. Aroma masakan rumah dan suara televisi yang menyala pelan membuat tempat mewah itu kini terasa seperti sebuah rumah yang sebenarnya. Namun bagi Siska, ada sebuah kegelisahan kecil yang terus menggelitik hatinya. Kehadiran Grace berarti dia tidak bisa lagi sebebas dulu untuk bermanja-manja dengan Arga. Pagi itu, Siska sedang berada di dapur, menyiapkan sarapan sederhana untuk mereka bertiga. Grace sedang sibuk di dalam kamarnya, merapikan buku-buku sekolah barunya. Siska merasa tenang, sampai tiba-tiba dia merasakan sepasang lengan kokoh melingkar di pinggangnya dari belakang. Siska tersentak pelan. "Ga, jangan sekarang. Nanti Grace lihat." Arga tidak melepaskannya. Malah, pria itu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Siska, menghirup aroma sabun yang menenangkan. "Dia sedang sibuk, sayang. Jangan terlalu tegang." "Tetap saja, Ga. Dia sudah besar, dia bisa saja keluar kamar kapan saja," bis
続きを読む