LOGINMalam yang seharusnya menjadi perayaan kemenangan opini publik berubah menjadi malam yang paling sibuk di penthouse mewah milik Arga. Tidak ada lagi alunan musik klasik yang lembut atau makan malam romantis di bawah cahaya lilin. Ruang makan yang luas itu telah berubah fungsi menjadi sebuah pusat komando atau ruang perang. Meja kayu jati yang biasanya bersih kini tertutup tumpukan map cokelat, dokumen legal, laptop yang menyala, dan kabel-kabel yang melintang di mana-mana.Siska berdiri di dekat jendela besar, menatap kerlap-kerlip lampu kota Jakarta. Pikirannya masih melayang pada kejadian-kejadian sebelumnya, namun kini matanya tidak lagi menunjukkan ketakutan. Ada api baru yang menyala di sana, api keberanian untuk mengakhiri semuanya.Arga menghampiri Siska dari belakang. Dia tidak langsung bicara. Pria itu menyampirkan jaket wol lembut ke bahu Siska, lalu melingkarkan lengannya di pinggang wanita itu. Dia menyandarkan dagunya di bahu Siska, menghirup aroma lavender dari rambut wa
Matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden penthouse, membawa kehangatan yang terasa asing bagi Siska. Setelah badai emosi semalam, suasana di dalam rumah terasa jauh lebih tenang. Kini, masalah internal di antara mereka telah tuntas. Rahasia kotak besi itu telah menjadi jembatan, bukan lagi jurang. Arga duduk di tepi tempat tidur, memperhatikan Siska yang baru saja terbangun. Tangannya yang hangat mengusap dahi Siska dengan penuh kasih sayang. "Kita tidak bisa terus bersembunyi di sini, Siska," ujar Arga dengan suara yang lembut namun penuh wibawa. Siska menarik selimutnya sedikit lebih tinggi. "Aku takut, Ga. Di luar sana, orang-orang masih menganggapku sebagai istri yang melarikan diri. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi." Arga menggeleng pelan. Dia menggenggam tangan Siska dan mengecup punggung tangannya lama sekali. "Kamu tidak salah, sayang. Kamu adalah pahlawan. Kamu menyelamatkan nyawaku dulu, dan kamu menyelamatkan dirimu serta Grace dari monster sep
Di sore yang syahdu itu, Tiba-tiba ada panggilan telepon dari kantor Arga, "Oke, aku akan segera kesana sekarang". "Ada apa, Ga? Selidik siska. "Biasalah, ada teman lama yang datang mampir ke kantor," jawab Arga. Arga berlalu bergegas ke kantor, tak lupa Arga pun memberikan kecupan manis di kening Siska. "Hati-hati dijalan, Ga." Jantung Siska masih berdegup kencang. Selama ini dia merasa terjebak dalam obsesi seorang pria muda yang berbahaya. Dia merasa seperti korban penipuan, atau lebih buruk lagi, seperti wanita simpanan yang hanya dijadikan alat pemuas ego. Namun sekarang, setelah melihat bekas luka yang sama di kulit mereka, segalanya berubah. Dunia Siska yang tadinya gelap dan penuh prasangka mendadak terang benderang. Dia bukan lagi "tante-tante simpanan" seperti yang sering dibisikkan orang-orang di luar sana. Dia adalah alasan Arga bertahan hidup selama lima belas tahun. "Apa aku pantas mendapatkan cinta sehebat ini?" bisik Siska pada kesunyian ruangan. Tiba-tib
Keheningan kembali menyergap ruang kerja itu setelah badai pengakuan Arga mereda. Siska masih berdiri mematung, menatap pria di depannya dengan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi, hatinya bergetar melihat pengabdian Arga yang begitu luar biasa selama belasan tahun. Namun di sisi lain, ada sebuah tembok besar yang menghalangi logikanya. Perbedaan usia mereka, masa lalu yang kelam, dan kenyataan bahwa Arga telah mengawasinya seperti sebuah objek selama ini membuat Siska merasa hubungan ini terasa salah. "Ga, ini terlalu berat untukku," bisik Siska sambil memalingkan wajah. "Kita berbeda. Aku adalah wanita yang sudah hancur oleh pernikahan yang gagal. Aku jauh lebih tua darimu. Masa laluku penuh dengan noda, sementara kamu... kamu punya masa depan yang begitu gemilang. Kenapa harus aku yang menjadi tujuan hidupmu?" Arga tidak menjawab dengan kata-kata kasar atau bantahan yang keras. Dia memper erat pelukannya, lalu Dia berlutut di depan Siska, bukan untuk memohon, melainkan untu
Suara napas Arga terdengar berat di ruangan yang kini terasa semakin sempit bagi Siska. Pengakuan tentang kebakaran itu masih terngiang di telinganya, namun Arga belum selesai. Pria itu menatap foto-foto yang berhamburan seolah setiap lembarannya adalah potongan nyawa yang ia kumpulkan selama belasan tahun. "Setelah malam itu, Siska... setelah kebakaran, Satu-satunya hal yang aku ingat adalah wajahmu. Wanita yang menerobos api hanya untuk anak kecil yang tidak dikenal. Aku menghabiskan waktu bertahun-tahun hanya untuk mencarimu." Siska mundur selangkah, namun matanya tetap tertuju pada Arga. Dia melihat luka yang jauh lebih dalam dari sekadar bekas luka bakar di punggung pria itu. "Aku belajar seperti orang gila. Aku merangkak, tertatih hanya untuk bisa masuk ke lingkaran sosial yang sama denganmu," lanjut Arga. Matanya kini berkaca-kaca. "Dan saat aku akhirnya menemukanmu sepuluh tahun yang lalu, aku pikir aku akan datang padamu, memeluk kakimu, dan mengucapkan terima kasih. Ta
Keheningan di dalam ruang kerja itu terasa begitu tebal, seolah-olah udara telah membeku di sekitar mereka. Siska masih berdiri mematung, jemarinya yang dingin mencengkeram erat foto candid dirinya yang diambil bertahun-tahun lalu. Di depannya, Arga berdiri tegak. "Apa yang kamu mau, Arga?" suara Siska pecah, terdengar seperti bisikan yang penuh luka. "Kenapa kamu punya foto-foto ini? Kenapa kamu mengikutiku selama bertahun-tahun tanpa aku sadari? Kamu... kamu penguntit?" Siska merasa terjebak. Pria yang selama ini dia anggap sebagai tempat berlabuh paling aman, kini terlihat seperti orang asing yang menyimpan ribuan rahasia gelap di balik matanya. Arga tidak langsung membela diri. Dia tidak tampak marah atau tersinggung. Pria itu justru melangkah mendekat secara perlahan. Setiap ketukan langkah kaki Arga di lantai kayu terasa seperti detak jantung kematian bagi Siska. "Jangan mendekat!" teriak Siska, meskipun suaranya tidak memiliki kekuatan. Arga berhenti tepat di hadapan
"Aku sudah berjanji akan menagih setiap kalori dari daging mahal itu langsung dari tubuhmu pagi ini, Siska. Bersiaplah." Suara Arga menggema di ruang VIP yang tertutup rapat. Siska menelan ludah dengan susah payah. Ia mengangguk pelan. Daging steak super lezat yang dikirimkan Arga kemarin siang ki
"Buka tirai jendelamu sekarang, Siska." Siska menggumamkan deretan kata dari pesan singkat di layar ponselnya itu dengan bibir yang bergetar. Jantungnya berpacu seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Dengan tangan yang berkeringat dingin, Siska merangkak ke arah jendela kamarnya. Ia menyibakka
"Apa kamu meminum segelas air putih hangat semalam sesuai dengan pesanku, Siska?" Suara bariton Arga terdengar berat dan sangat dingin dari balik telepon genggam Siska siang itu. Wanita itu tersentak kaget. Jantungnya langsung berpacu dengan liar menghantam tulang rusuknya. Ia menundukkan wajahny
"Ini gila, Arga! Apa apaan isi kertas ini? Kamu menyuruhku laporan menu makan tiga kali sehari dan mengatur jam tidurku? Ini kontrak latihan olahraga atau surat perbudakan manusia?!" Siska membanting sebuah map kulit berwarna hitam ke atas meja kaca di ruang VIP. Pagi itu, alih alih langsung disur







