Suara kunci pintu yang beradu dengan besi terdengar sangat keras di tengah keheningan apartemen yang mencekam. Arga baru saja mengunci pintu depan dengan napas yang masih memburu. Dia berbalik, menatap Siska dengan tatapan yang bisa membakar siapa saja yang melihatnya. Siska berdiri gemetar di tengah ruang tamu, tas kecilnya jatuh ke lantai begitu saja. "Masuk ke dalam, Siska," perintah Arga dengan suara rendah yang berbahaya. "Kenapa kita tidak bicara di sini saja? Kenapa kamu harus seperti ini, Ga?" Siska mencoba membela diri, meski suaranya bergetar hebat. "Masuk!" bentak Arga sekali lagi. Siska berjalan pelan menuju sofa, namun dia tidak duduk. Dia merasa seperti seorang tawanan. Ruangan ini, yang biasanya terasa hangat dan aman, kini berubah menjadi penjara yang menyesakkan. Siska memeluk dirinya sendiri, mencoba mencari sisa-sisa keberanian yang dia miliki. "Aku tidak bisa terus begini, Arga," Siska memulai, air matanya mulai mengalir lagi. "Aku tidak mau kamu hancur g
続きを読む