分享

Bab 117

作者: Tinta Senyap
last update publish date: 2026-05-01 19:34:13

Sore itu, kediaman Arga yang biasanya terasa seperti surga kecil bagi Siska mendadak berubah mencekam. Cahaya yang masuk melalui jendela besar di ruang tengah terasa lebih menyengat dari biasanya. Siska sedang berada di dapur, tangannya sibuk menata buah-buahan segar di atas piring porselen, sebuah rutinitas yang selalu dia lakukan dengan hati riang. Namun, hari ini Siska akan kedatangan tamu yang penting.

Sebuah limosin hitam panjang terparkir dengan angkuh. Dari dalamnya, keluar seorang pri
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 149

    Setelah makan malam selesai, mereka berjalan perlahan menyusuri bibir pantai. Air laut yang dingin sesekali menyentuh kaki mereka. Arga tiba-tiba berhenti dan menarik Siska ke dalam pelukannya. "Siska, aku punya satu hadiah lagi untukmu," ucap Arga. "Hadiah apa lagi, Mas? Tadi kan sudah makan malam yang luar biasa," tanya Siska heran. Arga mengeluarkan sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk sayap burung phoenix yang kecil namun sangat detail. Dia memasangkannya di leher Siska. "Burung phoenix ini melambangkan kamu. Kamu yang sudah bangkit dari abu kehancuran di masa lalu, dan kini terbang tinggi bersamaku. Jangan pernah merasa rendah diri, ya?" bisik Arga di telinga Siska. Siska menyentuh liontin itu dengan jari yang gemetar. Air mata kebahagiaan tidak bisa lagi ia bendung. "Aku mencintaimu, Mas Arga. Sangat mencintaimu." "Aku lebih mencintaimu, Siska," jawab Arga sebelum mendaratkan ciuman yang sangat dalam di bibir Siska di bawah siraman cahaya bulan Bali yang pera

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 148

    Pagi itu, rumah terasa sedikit lebih sibuk dari biasanya. Siska baru saja selesai menyiapkan sarapan saat Arga turun dari lantai atas dengan setelan kemeja santai berwarna biru muda. Wajahnya tampak sangat segar, dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya. Hari ini adalah hari istimewa, ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga sejak janji suci itu diucapkan kembali di rumah baru mereka. "Selamat ulang tahun pernikahan, istriku yang hebat," bisik Arga sambil memeluk Siska dari belakang saat wanita itu sedang meletakkan piring di meja. Siska menoleh dan tersenyum manis. "Selamat ulang tahun pernikahan juga, Mas Arga. Terima kasih sudah bersabar menghadapi aku selama tiga tahun ini." "Bersabar? Aku rasa aku tidak perlu bersabar untuk mencintai wanita sepertimu, Siska. Itu adalah hal termudah yang pernah aku lakukan dalam hidupku," Arga mengecup pipi Siska dengan lembut. Grace turun dengan wajah ceria, dia sudah siap dengan pakaian santainya. "Selamat ulang tahun pernika

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 147

    Beberapa minggu setelah pemakaman Hendri, kehidupan Siska dan Arga berjalan dengan kedamaian yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Namun, di balik senyum yang selalu Siska tunjukkan di depan yayasan dan keluarganya, ada sebuah keresahan kecil yang mulai tumbuh di lubuk hatinya. Sebuah keresahan yang bersifat sangat pribadi, yang berkaitan dengan jati dirinya sebagai seorang istri. Pagi itu, Siska duduk di tepi ranjang sambil menatap kalender kecil di ponselnya. Wajahnya tampak tegang, jemarinya sedikit bergetar saat menghitung hari. "Sudah telat dua minggu," gumam Siska lirih. Ada secercah harapan yang tiba-tiba membuncah di dadanya. Harapan yang mungkin terdengar mustahil mengingat usianya, namun tetap saja membuat jantungnya berdebar kencang. Apakah mungkin Tuhan memberikannya keajaiban? Apakah mungkin di dalam rahimnya kini sedang tumbuh buah cintanya dengan Arga? "Mama, kenapa belum turun? Papi sudah menunggu di bawah untuk sarapan," suara Grace terdengar dari balik

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 146

    Siska masih merasakan kehangatan kecupan Arga di keningnya. Kata-kata suaminya tentang menjenguk Hendri masih terngiang jelas. Tawaran itu adalah sebuah bukti betapa luasnya hati Arga. Pria itu tidak hanya mencintai Siska, tetapi juga menghormati setiap kepingan masa lalu yang membentuk Siska menjadi wanita seperti sekarang. "Mas benar-benar tidak keberatan kalau kita ke sana?" tanya Siska meyakinkan sekali lagi. Tangannya masih memegang serbet yang tadi ia gunakan untuk merapikan meja. Arga tersenyum lembut, lalu menarik sebuah kursi dan duduk kembali di depan Siska. "Kenapa aku harus keberatan, Sayang? Siska, dengarkan aku. Rasa cemburu itu lahir dari rasa tidak percaya diri. Aku sangat percaya diri bahwa kamulah milikku sekarang. Menjenguk Hendri bukan berarti kita kembali ke masa lalu, tapi itu adalah cara kita menutup buku lama dengan cara yang elegan." Siska menghela napas panjang, merasa bebannya terangkat. "Terima kasih, Mas. Aku sempat takut kamu akan merasa tidak nyama

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 145

    Matahari pagi menyinari halaman luas sebuah rumah tapak bergaya modern minimalis yang asri. Rumput hijau yang terpotong rapi menjadi tempat favorit bagi beberapa ekor kelinci peliharaan yang sedang asyik bermain. Tiga tahun telah berlalu sejak malam yang sakral itu, dan hidup Siska Amalia telah berubah total, jauh melampaui imajinasi terliarnya sekalipun. Siska berdiri di teras rumah, menyesap teh melati hangatnya sambil menatap papan nama kayu kecil yang tergantung di paviliun samping rumahnya. Di sana tertulis: "Phoenix House - Yayasan Pemberdayaan Wanita". "Mama, sedang melamunkan apa?" suara yang kini terdengar jauh lebih dewasa menyapa pendengarannya. Siska menoleh dan tersenyum melihat Grace. Putrinya itu kini sudah lulus kuliah dan tampil sangat profesional dengan setelan kemeja kerja. Grace tidak lagi terlihat seperti gadis kecil yang ketakutan, melainkan wanita muda yang penuh percaya diri. "Mama hanya tidak menyangka, Grace. Phoenix House sudah membantu lebih dari se

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 144

    Malam semakin larut saat mobil Arga memasuki pelataran sebuah rumah baru yang lebih tenang dan asri. Arga sengaja tidak membawa Siska kembali ke rumah besar keluarganya atau ke tempat lama yang penuh kenangan pahit. Dia ingin mereka memulai semuanya dari titik nol, di sebuah hunian yang dia cicil sendiri dengan kerja kerasnya. Arga menuntun Siska masuk ke dalam kamar utama. Ruangan itu tidak terlalu luas, namun terasa sangat hangat dengan cahaya lampu tidur berwarna kekuningan. Kelopak bunga mawar putih tersebar di atas ranjang, memberikan aroma yang sangat menenangkan. "Selamat datang di rumah kita yang sebenarnya, Siska," bisik Arga sambil menutup pintu kamar perlahan. Siska berdiri di tengah ruangan, matanya berkaca-kaca menatap sekeliling. "Rumah kita. Kata-kata itu terdengar sangat indah di telingaku, Mas." Arga berjalan mendekat, dia berdiri tepat di belakang Siska dan melingkarkan lengannya di pinggang wanita itu. Dia menyandarkan dagunya di bahu Siska, menatap pantulan

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 67

    Hari-hari berlalu di dalam penthouse mewah itu dengan ritme yang perlahan-lahan mulai berubah. Ketegangan hebat yang terjadi malam itu seolah menguap, terkubur oleh kesunyian gedung tinggi yang kedap suara. Siska, yang awalnya merasa seperti tawanan, mulai mencari cara untuk tidak menjadi gila dala

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 66

    Pagi itu, suasana di dalam penthouse terasa sangat menyesakkan bagi Siska. Meskipun ruangan itu luas dan sangat mewah, baginya tempat ini tidak lebih dari sebuah kotak kaca yang hampa. Pikirannya tidak lagi tertuju pada fitnah Hendri atau ancaman di luar sana. Pikirannya hanya tertuju pada satu nam

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 65

    Matahari pagi menembus celah gorden penthouse mewah itu, memberikan sedikit kehangatan pada wajah Siska. Fisik Siska terasa sangat lelah, namun pikirannya mulai bekerja kembali. Dia bangun dari tempat tidur dengan tubuh yang masih sedikit lemas. Dia berjalan menuju ruang tengah, mencari keberadaan

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 64

    Ruang tengah penthouse itu sangat sunyi, hanya suara detak jarum jam dinding yang terdengar menyiksa telinga. Siska duduk di kursi panjang tepat di depan jendela besar yang menampilkan pemandangan kota dari ketinggian lantai lima puluh. Matanya sembap, tatapannya kosong menatap gedung-gedung yang t

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status