Share

Bab 116

Author: Tinta Senyap
last update publish date: 2026-05-01 19:34:07

"Arga, turunkan aku sebentar di sini," ucap Siska dengan suara yang sangat stabil.

Arga menatap Siska dengan cemas. "Siska, apa yang kamu lakukan? Kamu masih mau bertemu dengan Hendri!"

"Berikan aku waktu sebentar, Ga. Beri aku ruang untuk menyelesaikan ini secara pribadi. Aku tidak ingin masa laluku terus mengekor seperti bayangan yang menghantui langkah kita ke depan," pinta Siska. Tatapannya begitu teguh hingga Arga tidak mampu membantah.

Arga akhirnya mengangguk. Dia menginstruksikan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 118

    Siska duduk mematung, menatap piring porselen di hadapannya yang isinya tampak begitu mewah, namun aroma makanannya mendadak berubah menjadi amis di indra penciuman. Di depan Siska, Nyonya Ratna sedang memotong daging steak dengan gerakan yang sangat presisi, sangat elegan, seolah-olah dia sedang membedah sesuatu yang menjijikkan. Setiap denting pisau yang beradu dengan piring perak itu seakan-akan berbunyi tepat di dalam dada Siska, memicu rasa ngilu yang tak tertahankan. "Siska, kamu tahu kenapa daging ini begitu mahal?" tanya Nyonya Ratna tanpa mengangkat wajahnya. Suaranya halus, namun dinginnya melebihi es di dalam gelas anggur di sampingnya. Siska berdeham kecil, mencoba mengatur suaranya yang tiba-tiba hilang. "Karena kualitasnya, Bu?" Dia tertawa kecil, tawa yang meremehkan. "Bukan hanya kualitas, tapi karena kemurnian asal-usulnya. Sapi-sapi ini dipelihara di lingkungan yang steril, diberikan makanan terbaik, dan tidak pernah dicampur dengan ternak murahan. Itulah yang

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 117

    Sore itu, kediaman Arga yang biasanya terasa seperti surga kecil bagi Siska mendadak berubah mencekam. Cahaya yang masuk melalui jendela besar di ruang tengah terasa lebih menyengat dari biasanya. Siska sedang berada di dapur, tangannya sibuk menata buah-buahan segar di atas piring porselen, sebuah rutinitas yang selalu dia lakukan dengan hati riang. Namun, hari ini Siska akan kedatangan tamu yang penting. Sebuah limosin hitam panjang terparkir dengan angkuh. Dari dalamnya, keluar seorang pria paruh baya yang masih tampak gagah dan seorang wanita yang penampilannya sangat memukau. Wanita itu mengenakan setelan jas berbahan wol mahal berwarna putih gading, dipadukan dengan syal sutra yang melambai ditiup angin. Gerakannya anggun, namun sorot matanya yang terlihat dari kejauhan memancarkan otoritas yang tak terbantahkan. Arga yang baru saja keluar dari kamar tampak tegang. Wajahnya yang biasanya tenang mendadak mengeras. Sementara Siska tetap berdiri di dapur dengan perasaan yang ti

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 116

    "Arga, turunkan aku sebentar di sini," ucap Siska dengan suara yang sangat stabil. Arga menatap Siska dengan cemas. "Siska, apa yang kamu lakukan? Kamu masih mau bertemu dengan Hendri!" "Berikan aku waktu sebentar, Ga. Beri aku ruang untuk menyelesaikan ini secara pribadi. Aku tidak ingin masa laluku terus mengekor seperti bayangan yang menghantui langkah kita ke depan," pinta Siska. Tatapannya begitu teguh hingga Arga tidak mampu membantah. Arga akhirnya mengangguk. Dia menginstruksikan supirnya untuk putar balik ketempat Hendri. Siska melangkah keluar dari mobil, berjalan perlahan menuju di mana Hendri sedang meringkuk dalam cengkraman satpam. Melihat kedatangan Siska, Satpam itu berhenti. Mereka mengenali Siska sebagai kekasih Arga Pratama, pria yang memiliki pengaruh jauh lebih besar dari hutang-hutang Hendri. Mereka mundur selangkah, memberikan ruang bagi sang ratu untuk memberikan vonisnya. Hendri mendongak. Harapan muncul di matanya yang sudah bengkak. "Siska... kamu

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 115

    Matahari sore itu bersinar tidak terlalu terik, seolah sedang berbelas kasih pada bumi. Di depan sebuah gedung apartemen mewah yang menjulang tinggi, Siska berdiri di lobi sambil merapikan pakaiannya. Seminggu telah berlalu sejak badai besar itu menghancurkan hidup Hendri, dan bagi Siska, seminggu ini adalah waktu paling damai yang pernah dia rasakan dalam bertahun-tahun. Tidak ada lagi teriakan, dan tidak ada lagi rasa takut akan dikhianati. Namun, di balik tembok pagar yang tinggi, ada sepasang mata yang terus mengawasi dengan penuh keputusasaan. Hendri berdiri di balik tiang listrik, beberapa puluh meter dari gerbang keluar. Penampilannya sudah tidak bisa dikenali lagi. Kemejanya yang dulu seharga jutaan rupiah kini sudah dekil, robek di bagian lengan, dan penuh noda tanah. Wajahnya yang dulu sombong kini tampak tirus, dengan tulang pipi yang menonjol dan janggut yang tumbuh tidak teratur. Selama seminggu ini, dia tidur berpindah-pindah tempat. Setiap kali melihat mobil mewah

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 114

    Di tempat yang lain, Hendri tampak seperti bom waktu yang siap meledak. Wajah pria itu merah padam, urat-urat di lehernya menonjol, dan tangannya mengepal begitu kuat hingga gemetar. Arga sengaja melakukan ini. Arga ingin Hendri melihat sendiri dengan siapa selama ini dia berbagi tempat tidur dan rahasia. "Sialan, wanita yang aku bela mati-matian rupanya sedang mencoba mengkhianatiku demi kenyamanan barunya," gumam Hendri. "BAJINGAN KAU, VENI!" teriak Hendi dan hampir saja dia memukul layar TV. "Aku menyesal telah percaya sepenuhnya padamu, kamu memang Ular licik yang tau di untung!" teriak Hendri. "Aku telah melihat semuanya, melihatmu agresif mendekati Arga! Aku melihatmu menghinaku dengan sukarela! Aku akan memastikan kamu membusuk di jalanan!" Suara Hendri menggema diruangan itu. Malam semakin larut di sudut kota yang kumuh. Bau sampah yang membusuk dari gang sempit di samping hotel melati itu seolah menjadi aroma penyambutan bagi Veni yang baru saja tiba. Wanita itu berja

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 113

    Malam pun tiba. Hotel Grand Majestic tampak megah dengan lampu-lampu kristal yang berkilauan. Veni turun dari taksi dengan pakaian yang sangat minim dan berani. Dia memakai gaun merah ketat yang memperlihatkan lekuk tubuhnya, berharap Arga akan langsung bertekuk lutut melihatnya. Dia berjalan menuju resepsionis dengan gaya angkuh. "Kunci untuk Suite 801 atas nama Arga Pratama Dewantara." Setelah mendapatkan kartu akses, Veni naik ke lantai atas dengan jantung yang berdebar kencang. Dia sudah membayangkan betapa kayanya Arga, jauh lebih kaya dari Hendri yang sekarang sudah jatuh miskin. Dia masuk ke dalam kamar mewah itu, menyemprotkan parfum berkali-kali ke lehernya. "Arga... kamu di mana?" panggil Veni dengan suara yang dibuat-buat manja. Keadaan kamar itu temaram. Hanya ada satu lampu meja yang menyala. Di atas ranjang besar, terlihat sebuah kotak perhiasan yang terbuka, menampakkan kalung berlian yang sangat indah. Veni langsung berlari menghampiri kalung itu. "Ya Tuhan!

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 14

    "Buka tirai jendelamu sekarang, Siska." Siska menggumamkan deretan kata dari pesan singkat di layar ponselnya itu dengan bibir yang bergetar. Jantungnya berpacu seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Dengan tangan yang berkeringat dingin, Siska merangkak ke arah jendela kamarnya. Ia menyibakka

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 13

    "Apa kamu meminum segelas air putih hangat semalam sesuai dengan pesanku, Siska?" Suara bariton Arga terdengar berat dan sangat dingin dari balik telepon genggam Siska siang itu. Wanita itu tersentak kaget. Jantungnya langsung berpacu dengan liar menghantam tulang rusuknya. Ia menundukkan wajahny

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 12

    "Ini gila, Arga! Apa apaan isi kertas ini? Kamu menyuruhku laporan menu makan tiga kali sehari dan mengatur jam tidurku? Ini kontrak latihan olahraga atau surat perbudakan manusia?!" Siska membanting sebuah map kulit berwarna hitam ke atas meja kaca di ruang VIP. Pagi itu, alih alih langsung disur

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 11

    "Halo. Saya Coach Arga, pelatih pribadi ibu kamu. Dan kamu pasti Grace, kan? Kebetulan sekali kamu mendaftar hari ini, karena mulai besok saya yang akan mengurus kalian berdua di tempat ini." Darah di sekujur tubuh Siska terasa membeku seketika. Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat sebelum a

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status