"Benar kata Mbak Ana, Mas Rama itu misterius. Tiba-tiba nongol, tiba-tiba menghilang." Lia yang masih terlentang di atas kasur lantai mulai berkomentar. Aku dan dia sama-sama kecapekan setelah keliling pasar membeli barang-barang yang dibutuhkan. "Memang begitu, Dek. Makanya sulit ditebak. Nggak tahu maunya apa dan bagaimana," ujarku kemudian. "Aneh ya, Mbak. Dia itu romantis dengan caranya sendiri. Unik gitu." Adik perempuanku itu memiringkan badan lalu tersenyum tipis ke arahku. "Sudah, jangan bahas Mas Rama terus. Baiknya kita istirahat sebentar, bakda ashar kan mau masak buat makan malam." Lia mengangguk lalu kembali terlentang sembari memeluk guling kesayangannya."Jangan lupa tutup pintunya, Mbak. Emak bawa kunci cadangan kok. Jadi, nggak perlu khawatir misal kita nggak dengar ketukannya." Aku pun mengangguk lalu beranjak ke ruang depan untuk menutup pintu. Setelahnya, mengikuti Lia tidur di kasur lantai berwarna biru tua itu. Baru mau memejamkan kedua mata, mendadak terdeng
Last Updated : 2026-01-14 Read more