“Kalau aku hilang, apa kamu bakal sadar… kalau aku pernah ada?” ucap Revan dengan suara bergetar.Suaranya tenggelam di dalam keheningan apartemen yang dingin dan sunyi itu. Pria itu terbaring diam di atas ranjang, satu tangan menutupi matanya seolah tidak sanggup melihat apa pun di sekelilingnya. Selimut tipis menutupi tubuhnya hingga dada, sementara napasnya terdengar berat, pendek, dan tidak teratur. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin terus membasahi pelipis serta lehernya, membuatnya terlihat begitu rapuh.“Sudah lima hari… tepat lima hari aku mengurung diri di sini,” gumamnya lirih, suaranya serak dan hampir tidak terdengar. “Lima hari di mana dunia di luar sana seolah terus berjalan, tapi duniaku sendiri berhenti total.”Tirai kamar masih tertutup setengah. Cahaya matahari sore masuk samar-samar, jatuh malas di lantai kayu yang mulai berdebu dan berantakan. Di meja dekat sofa, beberapa gelas kopi kosong, botol air mineral, dan bungkus makanan instan menumpuk tidak tersentuh,
더 보기