“Elara, kamu harus kuat…”Gumaman pelan itu terlontar dari bibir Elara, meski hatinya berteriak untuk lari.Hari pertemuan itu akhirnya tiba.Pertemuan yang membawa tekanan sejak beberapa hari terakhir. Tekanan yang menumpuk di dada Elara. Bangun pagi, Elara duduk di tepi tempat tidur, memandangi layar ponselnya yang berkali-kali menyala lalu mati. Dia bingung harus berbuat apa. Udara di kamarnya terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin hanya perasaan Elara saja. “Aku harus datang,” gumam Elara pelan, seperti meyakinkan diri sendiri. Namun, beberapa detik kemudian, dia menggeleng. “Tidak … aku tidak seharusnya ada di sana.” Dia bangkit, berjalan beberapa langkah, lalu berhenti lagi. Tangannya meraih kursi, menggenggam sandarannya erat. “Kalau aku datang, mereka akan semakin terluka.” Akhirnya, dengan ragu, dia mengambil ponselnya dan menekan nomor pihak notaris. Panggilan tersambung beber
Baca selengkapnya