“Masih banyak yang belum aku ceritakan.”Nayla menunduk, malu menatap mata Elara.Elara menunggu. Memberi ruang. Nayla menelan ludah. Matanya mulai berkaca-kaca.“Aku … sering ke club malam.”Kalimat itu keluar begitu saja. Tanpa pembuka yang basa basi, tanpa usaha memperhalus perkataannya juga.Elara tidak tampak terkejut. Hanya alisnya yang sedikit berkerut, menandakan dia sedang mencerna maksud pernyataan adik tirinya itu.“Aku suka minum … sampai mabuk,” lanjut Nayla lirih. “Bukan sekali dua kali. Tapi, berkali-kali.”Dia memejamkan mata sejenak, mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan.“Aku minum di tempat yang sama dengan Kak Adrian berlangganan. Biasanya, dia bawa klien kantornya ke sana.”Nama itu membuat suasana berubah. Elara menggigit bibirnya, gelisah.“Awalnya Kak Adrian cuma memergoki aku mabuk, lalu bantu antar pulang. Tapi, seiring waktu, tiap kali mabuk aku selalu telepon dia. Minta dijemput.”Elara mendengarkan dengan sabar.Nayla melanjutkan, suaranya makin terde
더 보기